Makanan Terenak

28 September 2015 by · Leave a Comment 

Kalau kamu dan saya ditanya apa makanan terenak di dunia? Tentu saja masakan Ibu ūüôā

Saya sendiri bukanlah orang yang kalo makan milih-milih. Kalau ada makanan apa saja, pasti saya makan. Namun karena alasan kesehatan, saat ini saya lebih memilih makanan yang menyehatkan juga. Contohnya mengurangi makanan yang berkolesterol tinggi dan mengurangi makanan yang berlemak.

Tren makan saya sekarang adalah buah, nasi, sayuran lebih, dan ikan. Saya memilih ikan karena memang sudah terbiasa makan ikan sejak kecil dibandingkan ayam atau daging lainnya. Syukurlah semenjak kembali ke Jakarta, berat badan bisa turun 5 kilo dalam beberapa bulan. Suasana hati yang lebih banyak cerianya tentu saja membuat ngemil berkurang, walaupun akhir-akhir ini kecenderungan ngemil porsinya sudah meningkat.

Bagaimana makanan yang ideal menurut saya? Makanan yang tidak terlalu ekstrim, entah itu terlalu asin, asam, terlalu pedas, apalagi terlalu dingin (produk es misalnya). Sekali-sekali bolehlah, tapi kalau sering-sering biasanya perut sudah gak kuat. Kalo ditanya soal rasa, saya sih lebih prefer rasa yang natural, tidak diberi penguat rasa seperti MSG juga tidak masalah. Malah saya lebih menyukai masakan yang tanpa MSG, bisa langsung tau rasa asli yang kita makan itu seperti apa.

Sewaktu saya bertugas di site, kami biasanya memasak sendiri kalau mau makan malam atau di hari Minggu. Ketika acara masak-memasak, saya menyadari kebiasaan saya yang suka mencicipi mentahan makanan. Sayur, tempe, bawang, bumbu penyedap, yang masih dalam bentuk mentah dalam potongan-potongan kecil akan saya cicipi sebelum dimasukkan ke dalam belanga. Entah kenapa ada kepuasan kecil ketika tau “Ah, begini rasanya ketika masih belum dimasak”.

Ibuku di rumah tidak pernah menambah bumbu penguat MSG selain dari kecap, garam, bawang, ketumbar, jahe, lengkuas, dan bumbu alami lainnya (yang dulu membuat Indonesia dijajah 350 tahun). Tapi ibuku memang jago memasak, turunan dari nenekku sendiri. Kalo ditanya soal rasa, pasti aku akan jawab “Masakan ibuku paling enak sedunia”. Ada benarnya juga, tanpa penguat rasa sudah menghasilkan rasa yang pas, bukankah itu yang namanya jago memasak?

Saya sendiri bukanlah penyuka makanan cepat saji (fast food). Minuman berkarbonasi seperti Pepsi, Cola, atau daging ayam KFC bukan favorit saya, kebetulan saja karena memang saya tidak terlalu doyan ayam. Kalau ada teman yang ngajak makan fast food, saya tidak akan menolak, toh mungkin kesempatan ke sana mungkin hanya sekali dalam setahun. Tentu saja saya tidak akan merasa rindu kalau tidak ke sana dalam beberapa tahun ūüėõ

Jadi kalau ditanya apa makanan terenak di dunia? Jawabannya tentu saja masakan ibu. Tapi kalau hendak digeneralisir, mungkin makanan yang menyehatkan adalah makanan terenak di dunia.

Baterai Smarthphone Sehari Cuma Habis 20%

7 July 2015 by · Leave a Comment 

Saya punya smartphone Samsung Galaxy Grand, kapasitas baterai 2000 mAh. Dulu, sekali isi hingga penuh bisa bertahan seharian dari pagi sampe malam. Artinya tiap hari baterainya harus selalu diisi terus.

Beberapa hari ini saya mengamati bahwa ternyata baterai hape saya cuma habis 20% dari pagi sampe malam. Tentunya ada beberapa perubahan yang saya lakukan sehingga bisa menghemat cukup banyak energi. Apa saja perubahannya?

  1. Uninstall Facebook Mobile. Sadar atau tidak sadar, aplikasi mobile Facebook cukup menguras baterai. Dengan koneksi internet yang selalu aktif, aplikasi ini tentu tidak akan bosan-bosannya berinteraksi dengan server secara realtime. Penggunaan memory yang besar dan penggunan koneksi internet yang aktif tentu saja mempercepat habisnya baterai. Sekarang ini, kalau mau Facebook-an, saya lebih sering lewat laptop waktu malam hari. Toh sewaktu di kantor, mana sempat buka Facebook.
  2. Turunkan koneksi dari 3G menjadi 2G. Untuk keperluan chatting dan email, saya rasa koneksi 2G sudah cukup. Mengganti jenis koneksi menjadi 2G akan sangat berpengaruh pada baterai kamu. Mungkin ini faktor yang paling berpengaruh kenapa baterai cepat habis.
  3. Nonaktifkan fitur sinkronisasi Google yang tidak penting. Jika kamu membuka menu Pengaturan (Settings), kemudin masuk ke akun Google, kamu akan melihat banyak fitur sinkronisasi. Saya sendiri hanya mengaktifkan fitur sinkronisasi pada kalender dan Gmail saja,  selebihnya saya nonaktifkan karena memang tidak pernah (atau jarang) saya gunakan.
  4. Kalau kamu aktif mengunakan Google+, non-aktifkan fitur Auto Backup. Fitur ini bisa dilihat pada pengaturan (Settings). Jika fitur ini aktif, maka data-data pada smartphone kamu (gambar, video, dll) akan disimpan (backup) pada server Google+. Semakin aktif koneksi internet, maka semakin cepat pula baterai smartphone-mu berkurang.
  5. Dual SIM menjadi Single SIM. Kebetulan karena smartphone saya bisa dual SIM, saya cukup sering mengaktifkan 2 kartu sekaligus. Tapi karena satu kartu sudah tidak dipakai lagi, akhirnya saya cuma punya 1 kartu saja. Alhasil, baterai pun bisa dihemat.

Kalau kamu memiliki banyak aplikasi yang rakus memory RAM dan sering terhubung ke internet, sebaiknya aplikasi tersebut kamu buang saja, apalagi jika kamu jarang menggunakannya. Selain mengganggu waktu bekerja dan belajar, kamu juga jadi tidak produktif.

Nah, itu tadi sedikit tips untuk bisa menghemat baterai smartphone. Kamu siap ga untuk uninstall Facebook Mobile?

Tabunganmu Apa?

28 June 2015 by · Leave a Comment 

Hari Jumat kemaren, ketika berada di angkutan umum sepulang dari kantor, saya berbincang-bincang dengan seorang ibu. Ibu itu menawarkan asuransi kesehatan yang cukup terkenal di Indonesia. Kelihatannya ibu tersebut adalah seorang agen. Ibu itu bertanya apakah saya pernah mendengar bahwa jika asuransi kesehatan mereka menawarkan proteksi kesehatan sekaligus tabungan keuangan yang jika dalam 10 tahun jumlahnya bisa berkali lipat. Dengan antusias saya menjawab bahwa saya pernah mendengar dengan lebih lengkap penjelasan asuransi tersebut. Kebetulan teman kuliah dulu ada yang bekerja sebagai agen juga, sehingga pernah mendapat penjelasan yang super lengkap.

Namun saya menolak untuk mengikuti karena memang beban tanggungan saya saat ini tidak mencukupi bila ikut serta dengan asuransi tersebut, walapun tidak menutup kemungkinan saya akan mengikutinya suatu hari nanti. Kamipun lama mengobrol tentang kehidupan masing-masing dan ibu itu lebih banyak menyampaikan petuah untuk menabung sejak dini.

Berbicara tentang tabungan, setelah memasuki dunia kerja, tabungan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Tidak seperti masa-masa bersekolah yang menabung untuk membeli sesuatu atau hal lainnya, menabung di usia dewasa memiliki arti lain. Menabung di sini bisa diartikan sebagai modal dan investasi, baik itu biaya menikah, membeli rumah, menjalankan bisnis, biaya berkeluarga atau keperluan lainnya.

Dalam berbagai kesempatan berbincang-bincang dengan beberapa teman, saya cukup mendapat pencerahan dengan berbagai jenis tabungan yang bisa dipakai. Ada teman yang cukup menabung di bank, ada juga teman yang menabung di reksadana atau bermain di jual beli saham, ada yang merasa cukup menabung dalam bentuk emas, ada juga yang berusaha bermain di bidang properti (rumah). Tidak sedikit juga yang menyimpan uangnya dalam bentuk asuransi/proteksi kesehatan, seperti yang sudah saya singgung di atas.

Berbagai tabungan itu bukan tanpa kekurangan, semua ada plus dan minus nya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kebutuhan kita, kondisi keuangan, waktu, resiko masing-masing metode dan berbagai pertimbangan internal lainnya. Sebagai contoh, saya tidak menabung dalam bentuk uang di bank, karena saya tau inflasi per tahunnya lebih besar daripada bunga bank itu sendiri. Selain itu kondisi ekonomi yang belum stabil tidak cukup untuk membuat nilai tabungan di bank menjadi aman. Emas lebih stabil, tidak terlalu terpengaruh kondisi ekonomi (koreksi saya jika salah) dan rata-rata mengalami kenaikan nilai setiap tahunnya. Bisnis properti memang menjanjikan, namun perlu modal besar. Bermain di saham juga memiliki peluang untung yang besar, namun tentu saja peluang ruginya juga besar.

Jika punya uang yang cukup, bisa saja bentuk tabungannya lebih dari satu. Bentuknya pun tidak terbatas dengan yang saya tuliskan di atas.

Sedikit hitung-hitungan yang pernah saya dengar, bunga di bank berkisar 0-2% per tahun, namun inflasi per tahun sekitar 5-8%. Inflasi pendidikan lebih tinggi lagi, berkisar 10-14%. Inflasi kesehatan mencapai 15-20% per tahun. Hitung-hitungan di atas memang cuma gambaran kasar, tapi tetap bisa memberikan perhatian (aware) pada kita tentang tabungan yang harus kita miliki.

Saya pun yang baru memasuki dunia kerja, meskipun bukan ahli ekonomi, tetap memperhatikan dan belajar tentang tabungan yang cocok bagi saya. Saya sendiri beranggapan bahwa tabungan yang cocok dengan seseorang harus disesuaikan dengan kebutuhan orang itu sendiri.

Asal Usul Logo Ganesha Insitut Teknologi Bandung (ITB)

6 June 2015 by · 2 Comments 

Pernah nyari tau gak asal usul logo kampus ITB (Ganesha) itu dapat darimana?

1261026605

Logo ITB

Hasil pencarian di internet dengan kata kunci ‘asal usul logo itb’ tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan, bahkan kemungkinan tidak ada artikel yang menjelaskan itu. Saya sendiri sudah pernah membaca di sebuah buku digital kenapa¬†logo Ganesha dipakai sebagai lambang ITB.¬†Kisahnya diceritakan¬†dalam buku digital berjudul¬†Aura Biru ‚Äď Catatan Para Pelaku Sejarah ITB,¬†¬†bagian ke-1 dari 4 buku. Buku ini sudah terbit sejak tahun 2009, tapi hingga tahun 2015, ceritanya belum juga tercatat di Google. Setelah mengecek ulang ketika menulis artikel ini, ternyata buku digital tersebut tidak bisa memilih teks untuk disalin (copy) ke tempat lain. Mungkin inilah penyebabnya¬†Google gagal mengindeks isi dari buku tersebut.

Agar lebih jelas dan lengkap, saya menulis ulang sebagian isi dari buku tersebut yang menceritakan sejarah logo ITB.

Sebagai sebuah Perguruan tinggi yang baru yang akan bernama Institut Teknologi Bandung, tentulah pula memerlukan sebuah lambang yang khas sebagai identitas ITB yang dapat dipakai atau ditampilkan dalam segala bentuk kegiatan ITB. Lambang yang pernah ada yang dipakai sejak 1946 sampai 1950, ketika perguruan tinggi tersebut masih bernama Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng, tentulah tidak terpakai lagi. Demikian pula lambang yang dipakai ketika masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia, dengan bentuk lambang yang menampilkan gambar stilasi dari pohon pisang kipas yang masa itu banyak tumbuh menghias halaman depan kampus UI di Salemba, harus diakhiri penggunaannya. Lambang UI ini pernah dipakai di kampus antara 1950-1959.

Timbullah masalah bagaimana menciptakan lambang yang baru bagi ITB. Menurut cerita yang pernah disampaikan oleh almarhum A. Sadali yang konon mendapat informasi dari alm Prof. S. Soemardja dari Seni Rupa ITB; Beliau mengisahkan pada saya sebagai berikut.

Setelah berminggu-minggu belum juga ditemukan objek atau bentuk yang dapat dikembangkan menjadi dasar lambang. Tercetuslah gagasan untuk mengajak beberapa guru besar saat itu seperti Prof. Ir. Soetedjo, Prof. S. Soemardja, Prof. Soemono, Prof, Ir. R.O. Kokasih dan lain-lain berjalan-jalan sekitar kampus untuk mencari ide. Mereka berkeliling sekitar kampus sambil menatap Gunung Tangkuban Perahu, menyimak keunikan bangunan aula dengan atap dan konstruksinya yang khas, melihat taman yang berada di depan pintu gerbang kampus, sambil mengkaji sejarah awal berdirinya perguruan tinggi di kampus itu.

Mereka tetap saja belum menemukan hal-hal yang spesifik untuk dijadikan awal gagasan. Pada akhirnya rombongan ini sampai ke jam outdoor yang terpasang tidak jauh dari gerbang depan kampus. Ini merupakan satu-satunya jam umum yang masih kita temukan sampai sekarang. Ketika menatap jam tersebut mereka melihat dua buah patung Ganesha kecil yang dipasang di bawah jam tersebut. Tepatnya di sisi kiri dan kanan jalan dan menghadap ke depan. Patung-patung Ganesha tersebut masih lengkap dengan atributnya, yang hasil temuan beberapa tahun sebelumnya dari penggalian di situs-situs candi di Jawa Tengah oleh para arkeolog asing. Selain dari dua patung Ganesha itu masih ada pula beberapa patung penemuan lainnya yang disimpan di Bagian Seni Rupa. Kesemua patung tersebut, konon belum ikut didaftarkan di Museum Gajah di Jakarta.

patung ganesha depan itb

Ketika melihat kedua patung Ganesha yang duduk dengan tenang, tiba-tiba semua bersepakat untuk memulai wawasan mengembangkan lambang ITB dari patung Ganesha tersebut. Tindakan selanjutnya adalah kembali meminta bantuan Bagian Seni Rupa untuk menjelmakan sosok patung 3 dimensi tersebut ke dalam bentuk gambar 2 dimensi yang kelak dapat dipakai sebagai lambang. Lalu Bagian Seni Rupa menugaskan Srihadi S., seorang pelukis muda yang dianggap paling berbakat, untuk membuatkan desainnya yang kemungkinannya dibantu pula oleh beberapa asisten. Setelah berproses lama lahirlah bentuk lambang yang didesain oleh Srihadi, yang kita kenal sampai sekarang sebagai lambang ITB.

Setelah lambang itu dipakai selama kurang lebih 20 tahun oleh ITB, mulailah terlihat pemakaiannya beberapa keserampangan bentuk proporsi gajah yang digambarkan. Ada berbagai bentuk, seperti profil ganesha yang langsing, yang gemuk, yang kurus dan kadang-kadang dengan atributnya yang keliru.

Pada masa kerektoran Prof. Hariadi P. Soepangkat Phd. (1980-1988), tercetus ide keinginan untuk menertibkan penggambaran lambang ITB, yang sekalian dipatenkan (?) Untuk upaya ini, rektor meminta bantuan dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB membentuk sebuah tim kecil untuk menanganinya.

Tugas ini diserahkan pada studio Desain Grafis (sekarang Desain Komunikasi Visual) untuk mengolahnya. Sosok tubuh Ganesha itu distudi lagi, dengan grid-system. Bentuknya disempurnakan, garis dan sudutnya dihitung, disederhanakan, diletakkkan dalam grid untuk menghindarkan dari berbagai kemungkinan penyimpangan bentuk dalam penggunaan seterusnya. Kemudian, pembaruan ini, dilengkapi dengan buku tuntunan untuk cara pemakaian lambang di semua bentuk yang diperlukan. Bentuk gambar Ganesha pun dibuat dalam 2 versi yang berbentuk blok hitam dan gambar Ganesha yang berupa garis saja (outline).

Sejak itu diharapkan akan terjadi penertiban yang mudah diikuti oleh seluruh penggunaan ITB untuk lambang tersebut. Ada juga upaya kemudian untuk membuatkan bentuk Ganesha ke dalam ukiran relief dangkal, dan dalam bentuk patung 3 dimensi. Kesemua ini dalam kaitan agar dapat dipergunakan secara maksimal dan beragam, tapi tertib.

logo itb resmi

Untuk logo itu sendiri, website ITB sudah menyediakan logo ITB dengan lingkaran yang mengelilingi Ganesha dan ada tulisan Insitut Teknologi Bandung. Namun logo Ganesha polos berwarna hitam dan hanya bergaris hitam tidak tersedia di website resmi ITB, namun masih bisa ditemukan lewat pencarian Google.

Next Page »