Teknologi dan Dokumentasi

Perbedaan yang mencolok antara Indonesia dan Amerika adalah teknologi yang dimiliki oleh kedua negara. Amerika menang dari segi teknologi sedangkan Indonesia belum memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Indonesia yang dulu diberi sebutan Macan Asia, kini kalah dengan Jepang yang memiliki wilayah sempit dan tanah kurang subur akibat bom atom yang membumihanguskan kota mereka.

Negara yang maju adalah negara yang menguasai perkembangan teknologi. Lihat Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, bahkan saat ini India, yang dulu hidup dalam kemiskinan, memiliki peradaban (civilization) yang lebih maju dibandingkan negara Indonesia. Semua terjadi karena negara-negara tersebut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology).

Pendidikan dan riset yang intensif adalah kunci kesuksesan keberhasilan negara-negara ini. Perguruan tinggi menjadi ujung tombak suatu negara dalam membantu pengembangan riset. Amerika punya Universitas Illionis, Singapura punya Nanyang University, Jepang punya Tokyo University, dan Malaysia punya University Technology of Malaysia. Lihat saja di Indonesia, cuma ada beberapa universitas yang cukup concern pada riset dan pengembangan teknologi.

Para engineer tidak terlalu dihargai di negara kita. Bentuknya adalah minimnya dana yang disediakan pemerintah untuk pengembangan teknologi yang baik. Mungkin saat ini pemerintah hanya berpikir,”Kan teknologi ini belum cocok sama Indonesia saat ini, jadi ga usah diriset”. Lalu apakah setelah teknologi tersebut sudah sangat maju di negara lain, negara kita baru akan mulai belajar? 🙂

Apapun bentuk teknologi itu, bukan masalah tidak perlu atau perlu, tapi kita berusaha siap untuk menghadapi era teknologi yang lebih maju dari saat ini, salah satu bentuknya adalah dengan menguasai banyak teknologi.

Negara yang maju adalah negara yang terus belajar dan tidak lupa menyalin ilmu yang diperoleh dalam bentuk dokumentasi. Saya pernah berpikir, kalau dari generasi ke generasi setiap individu-individu mempelajari hal-hal yang sama setiap angkatannya, lalu bagaimana kita bisa berkembang? Saya kuliah di tingkat 3 teknik sipil, angkatan di atas saya telah belajar sesuatu yang saya pelajari saat ini, setahun yang lalu. Tahun depan, angkatan di bawah saya akan mempelajari hal yang sama juga yang saya pelajari tahun ini. Tentu kegiatan ini akan berlangsung dari tahun ke tahun tanpa adanya peningkatan ilmu yang berarti.

Dokumentasi sangat penting dalam proses pembelajaran.Dengan dokumentasi, siapapun bisa belajar tanpa mengenal usia dan waktu. Bentuk dokumentasi bisa berupa buku, jurnal, tulisan pada blog, dll. Yang populer saat ini adalah publikasi dan dokumentasi lewat media internet. Banyak tulisan dan artikel dengan kualitas bagus yang ditulis dalam bahasa Inggris. Siapapun yang mengerti bahasa Inggris, paling tidak bisa meraih ilmu lebih banyak dibandingkan mereka yang hanya fasih berbahasa Indonesia. Makanya negara yang memakai bahasa Inggris lebih maju. Terakhir India lebih sering menggunakan bahasa Inggris, terlihat dari banyaknya film Bollywood yang kini diproduksi memakai bahasa Inggris.

Bagaimana dengan negara kita yang bahasa utamanya adalah bahasa Indonesia? Solusinya ada dua: meningkatkan kemampuan bahasa Inggris atau menyalin serta menerjemahkan ilmu yang banyak ada di dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kan sayang sekali kalau selama kita hidup, kita punya banyak karya, tapi ilmunya sendiri hilang begitu saja ketika kita meninggalkan dunia ini. Lebih bijaksana jika ilmu tersebut disalin dulu ke dalam media tulis agar generasi muda bisa belajar lebih cepat dari pengalaman-pengalaman yang sudah diraih tersebut, apalagi jika ilmu tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia 🙂

Selain itu, komputerisasi adalah proses menuju era perkembangan yang pesat. Tidak bisa dipungkiri lagi, perkembangan komputer telah banyak membantu para engineer memudahkan banyak pekerjaan yang rumit. Saya sangat senang programming, namun anehnya banyak teman-teman saya yang tidak suka programming. Padahal, para engineer terdahulu harus bisa programming. Bagi saya programming gampang-gampang susah, sedangkan ilmu dari kampus sangat susah. Bagi teman-teman saya programming memang susah, namun jika kita menguasainya, ilmu yang kita pelajari bisa kita permudah menggunakan programming.

Bentuk komputerisasi tidak hanya itu, penggunaan komputer dalam membantu simulasi sangat dibutuhkan. Lihat saja jurusan Astronomi yang membutuhkan komputer untuk simulasi bintang dan benda-benda angkasa.

Kesimpulannya, saya mengajak teman-teman untuk ikut serta mengembangkan ilmu yang teman-teman raih saat ini dan jangan lupa untuk mendokumentasikannya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *