Asal Usul Logo Ganesha Insitut Teknologi Bandung (ITB)

Asal Usul Logo Ganesha Insitut Teknologi Bandung (ITB)

Pernah nyari tau gak asal usul logo kampus ITB (Ganesha) itu dapat darimana?

1261026605
Logo ITB

Hasil pencarian di internet dengan kata kunci ‘asal usul logo itb’ tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan, bahkan kemungkinan tidak ada artikel yang menjelaskan itu. Saya sendiri sudah pernah membaca di sebuah buku digital kenapa logo Ganesha dipakai sebagai lambang ITB. Kisahnya diceritakan dalam buku digital berjudul Aura Biru – Catatan Para Pelaku Sejarah ITB,  bagian ke-1 dari 4 buku. Buku ini sudah terbit sejak tahun 2009, tapi hingga tahun 2015, ceritanya belum juga tercatat di Google. Setelah mengecek ulang ketika menulis artikel ini, ternyata buku digital tersebut tidak bisa memilih teks untuk disalin (copy) ke tempat lain. Mungkin inilah penyebabnya Google gagal mengindeks isi dari buku tersebut.

Agar lebih jelas dan lengkap, saya menulis ulang sebagian isi dari buku tersebut yang menceritakan sejarah logo ITB.

Sebagai sebuah Perguruan tinggi yang baru yang akan bernama Institut Teknologi Bandung, tentulah pula memerlukan sebuah lambang yang khas sebagai identitas ITB yang dapat dipakai atau ditampilkan dalam segala bentuk kegiatan ITB. Lambang yang pernah ada yang dipakai sejak 1946 sampai 1950, ketika perguruan tinggi tersebut masih bernama Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng, tentulah tidak terpakai lagi. Demikian pula lambang yang dipakai ketika masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia, dengan bentuk lambang yang menampilkan gambar stilasi dari pohon pisang kipas yang masa itu banyak tumbuh menghias halaman depan kampus UI di Salemba, harus diakhiri penggunaannya. Lambang UI ini pernah dipakai di kampus antara 1950-1959.

Timbullah masalah bagaimana menciptakan lambang yang baru bagi ITB. Menurut cerita yang pernah disampaikan oleh almarhum A. Sadali yang konon mendapat informasi dari alm Prof. S. Soemardja dari Seni Rupa ITB; Beliau mengisahkan pada saya sebagai berikut.

Setelah berminggu-minggu belum juga ditemukan objek atau bentuk yang dapat dikembangkan menjadi dasar lambang. Tercetuslah gagasan untuk mengajak beberapa guru besar saat itu seperti Prof. Ir. Soetedjo, Prof. S. Soemardja, Prof. Soemono, Prof, Ir. R.O. Kokasih dan lain-lain berjalan-jalan sekitar kampus untuk mencari ide. Mereka berkeliling sekitar kampus sambil menatap Gunung Tangkuban Perahu, menyimak keunikan bangunan aula dengan atap dan konstruksinya yang khas, melihat taman yang berada di depan pintu gerbang kampus, sambil mengkaji sejarah awal berdirinya perguruan tinggi di kampus itu.

Mereka tetap saja belum menemukan hal-hal yang spesifik untuk dijadikan awal gagasan. Pada akhirnya rombongan ini sampai ke jam outdoor yang terpasang tidak jauh dari gerbang depan kampus. Ini merupakan satu-satunya jam umum yang masih kita temukan sampai sekarang. Ketika menatap jam tersebut mereka melihat dua buah patung Ganesha kecil yang dipasang di bawah jam tersebut. Tepatnya di sisi kiri dan kanan jalan dan menghadap ke depan. Patung-patung Ganesha tersebut masih lengkap dengan atributnya, yang hasil temuan beberapa tahun sebelumnya dari penggalian di situs-situs candi di Jawa Tengah oleh para arkeolog asing. Selain dari dua patung Ganesha itu masih ada pula beberapa patung penemuan lainnya yang disimpan di Bagian Seni Rupa. Kesemua patung tersebut, konon belum ikut didaftarkan di Museum Gajah di Jakarta.

patung ganesha depan itb

Ketika melihat kedua patung Ganesha yang duduk dengan tenang, tiba-tiba semua bersepakat untuk memulai wawasan mengembangkan lambang ITB dari patung Ganesha tersebut. Tindakan selanjutnya adalah kembali meminta bantuan Bagian Seni Rupa untuk menjelmakan sosok patung 3 dimensi tersebut ke dalam bentuk gambar 2 dimensi yang kelak dapat dipakai sebagai lambang. Lalu Bagian Seni Rupa menugaskan Srihadi S., seorang pelukis muda yang dianggap paling berbakat, untuk membuatkan desainnya yang kemungkinannya dibantu pula oleh beberapa asisten. Setelah berproses lama lahirlah bentuk lambang yang didesain oleh Srihadi, yang kita kenal sampai sekarang sebagai lambang ITB.

Setelah lambang itu dipakai selama kurang lebih 20 tahun oleh ITB, mulailah terlihat pemakaiannya beberapa keserampangan bentuk proporsi gajah yang digambarkan. Ada berbagai bentuk, seperti profil ganesha yang langsing, yang gemuk, yang kurus dan kadang-kadang dengan atributnya yang keliru.

Pada masa kerektoran Prof. Hariadi P. Soepangkat Phd. (1980-1988), tercetus ide keinginan untuk menertibkan penggambaran lambang ITB, yang sekalian dipatenkan (?) Untuk upaya ini, rektor meminta bantuan dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB membentuk sebuah tim kecil untuk menanganinya.

Tugas ini diserahkan pada studio Desain Grafis (sekarang Desain Komunikasi Visual) untuk mengolahnya. Sosok tubuh Ganesha itu distudi lagi, dengan grid-system. Bentuknya disempurnakan, garis dan sudutnya dihitung, disederhanakan, diletakkkan dalam grid untuk menghindarkan dari berbagai kemungkinan penyimpangan bentuk dalam penggunaan seterusnya. Kemudian, pembaruan ini, dilengkapi dengan buku tuntunan untuk cara pemakaian lambang di semua bentuk yang diperlukan. Bentuk gambar Ganesha pun dibuat dalam 2 versi yang berbentuk blok hitam dan gambar Ganesha yang berupa garis saja (outline).

Sejak itu diharapkan akan terjadi penertiban yang mudah diikuti oleh seluruh penggunaan ITB untuk lambang tersebut. Ada juga upaya kemudian untuk membuatkan bentuk Ganesha ke dalam ukiran relief dangkal, dan dalam bentuk patung 3 dimensi. Kesemua ini dalam kaitan agar dapat dipergunakan secara maksimal dan beragam, tapi tertib.

logo itb resmi

Untuk logo itu sendiri, website ITB sudah menyediakan logo ITB dengan lingkaran yang mengelilingi Ganesha dan ada tulisan Insitut Teknologi Bandung. Namun logo Ganesha polos berwarna hitam dan hanya bergaris hitam tidak tersedia di website resmi ITB, namun masih bisa ditemukan lewat pencarian Google.

2 thoughts on “Asal Usul Logo Ganesha Insitut Teknologi Bandung (ITB)

  1. Mantap sekali ceritanya, Bos Duken. Baru tahu nih tentang cerita lambang ITB.

    Btw, “Aura Biru” itu bisa dapet dimana, Ken?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *