Proyek Pertama Sebagai Engineer Sipil Akhirnya Selesai

2 June 2015 by · Leave a Comment 
  

Sabtu, 30 Mei¬†2015 adalah hari terakhir saya bertugas di lapangan untuk proyek Regasifikasi LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh ūüôā

Setelah bertugas kurang lebih setahun tiga bulan, minggu kemaren saya ditelepon untuk dipulangkan ke kantor pusat di Jakarta. Tapi sebelumnya, saya cuti dulu seminggu.

Banyak pengalaman yang baik dan buruk yang saya alami di proyek pertamaku sebagai engineer sipil. Mulai dari permasalahan budaya (kultur), bahasa, sosial, hingga masalah teknis proyek itu sendiri. Banyak makan asam garam sudah membentuk sedikit karakter baru dalam diriku. Meskipun belum sempurna, namun saya bisa katakan saya merasa lebih baik dibandingkan sebelum saya mengikuti proyek ini.

Di dalam proyek terdapat 1001 macam kepribadian orang, mulai dari orang yang penurut, pemarah, keras kepala, pekerja keras, pemalas, pintar bernegoisasi, ada yang suka rapat setiap hari, ada yang tidak mau ikut rapat, ada yang suka lembur, ada yang suka pulang cepat, dan masih banyak sifat orang yang berpadu dalam proyek. Kombinasi kelebihan dan kekurangan sifat-sifat manusia bersatu membentuk karakter orang-orang tersebut. Sampai saat ini, belajar menghadapi berbagai karakter orang adalah salah satu tantangan terbesarku, mungkin hingga beberapa tahun ke depan.

Kalau dulu saya suka membeli buku-buku teknis, namun sejak masuk ke proyek, saya mulai melirik buku-buku yang berhubungan dengan manusia, sifat-sifat manusia, dan bagaimana menjalin komunikasi dengan manusia. Bukan karena saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, namun lebih kepada banyaknya kepentingan tiap-tiap orang dari berbagai disiplin, sehingga agak susah untuk mencocokkan kepentingan kita dan kepentingan pihak lain agar tidak saling merugikan. Kondisi ini tentu berbeda di saat sekolah atau kuliah di mana semua orang cenderung memiliki kepentingan yang sama: belajar, mendapatkan ilmu, dan lulus dengan baik. Kesimpulannya adalah tidak mudah untuk memenangkan hati setiap orang dan butuh pengalaman yang banyak untuk bisa melaluinya menuju sukses.

Hal ini berlaku juga dengan konsep manajemen proyek. Tanpa perencanaan dan ide yang matang, proses engineering dan konstruksi akan terlihat kompleks dan berlangsung lebih lama. Untuk urusan yang satu ini, saya masih jauh dari kata sempurna dan harus belajar banyak dari hari ke hari. Meskipun kadang kala di suatu waktu, saya merasa jenuh dan bosan sehingga lupa bahwa seharusnya saya melaksanakan proses manajemen proyek secara berkelanjutan. Apalagi di akhir-akhir proyek, meskipun memang masih ada satu-dua pekerjaan, tetap saja banyak nganggurnya sehingga kelihatan seperti orang menyedihkan.

Bagaimana dengan desain? Saya belajar banyak tentang desain, terutama tentang struktur beton dan baja, namun masih dalam lingkup struktur sederhana. Ada juga teknologi yang baru saya kenal setelah masuk ke dalam proyek, seperti teknologi angkur, angkur kimia, teknologi campuran beton, atau fabrikasi struktur baja. Yang menarik adalah ketika insting engineering-mu semakin baik dari hari ke hari, ternyata saya menjadi sering mencoba mendesain dan menebak ukuran pondasi atau struktur baja sebelum melakukan perhitungan yang sesungguhnya. Kalkulasi pun menjadi bagian kecil dari semua proses hingga struktur terpasang. Masih ada tahapan pembuatan gambar, proses pengajuan desain ke owner, proses pengecekan material hingga pembelian, proses perubahan desain akibat kondisi lapangan, tahapan pengecekan ketersediaan alat dan man power, proses fabrikasi dan pengecoran, merencanakan jadwal konstruksi, mengurus berbagai dokumen pra-konstruksi, hingga penggambaran as built. Bahkan kadangkala sepertinya lebih sulit mendapatkan kata sepakat dengan owner untuk struktur setinggi 1 meter dibandingkan menghitung struktur gedung 10 lantai.

Apakah saya patah semangat? Ada orang-orang yang menghakimi begitu saja, menyalahkan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Saya tentu banyak kecewa dengan orang-orang seperti itu. Namun mengingat perjalanan saya masih jauh di depan, saya tentu bertekat untuk memperbaiki banyak hal agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama, bahkan meskipun itu bukan kesalahanmu. Intinya adalah berbenah diri agar hari esok lebih baik dari hari kemarin.

Kehidupan konstruksi memang sangat berat. Banyak orang saling menyalahkan, entah itu untuk membela diri, atau demi kepentingan disiplin orang tersebut yang berbeda dengan kita, atau bisa saja karena orangnya memang suka menyalahkan. Saya merasa bahwa orang konstruksi yang biasanya stres cenderung bersikap egois. Kondisi ini tentu dipicu oleh kepentingan proyek: mempercepat proses konstruksi dan menghemat biaya.

Secara umum, saya cenderung menjadi pemalas ketika bekerja. Saya belum terbiasa pada pekerjaan multitasking dan cenderung bosan untuk kegiatan yang monoton. Secara umum, orang bergolongan darah B seperti saya memang cenderung cepat suka pada hal-hal baru, namun cepat juga bosan pada hal-hal tadi. Saya sangat sulit untuk fokus pada satu hal, tapi bukan berarti saya menyerah pada keadaan. Justru saya terus berlatih agar tidak mudah terusik pada hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi.

Proyek selanjutnya sudah di depan mata. Saya melangkah dari pengalaman dan pembelajaran di proyek pertama. Semoga berhasil dan terus menambah ilmu di proyek selanjutnya ūüôā

Omong-omong, beberapa minggu ini saya sedang menyiapkan paper ilmiah pertamaku. Saya sudah menghubungi dosen saya di ITB dan beliau menyanggupi untuk ikut ambil bagian dalam paper ini. Judulnya memang biasa, namun saya yakin akan tetap menambah wawasan ketekniksipilan kita.

 

About Duken Marga Turnip
Engineer PT Rekayasa Industri dan alumni Teknik Sipil ITB, yang senang dengan programming, internet, application development, sains, teknologi, dan matematika.

What's in your mind?