Tabunganmu Apa?

Tabunganmu Apa?

Hari Jumat kemaren, ketika berada di angkutan umum sepulang dari kantor, saya berbincang-bincang dengan seorang ibu. Ibu itu menawarkan asuransi kesehatan yang cukup terkenal di Indonesia. Kelihatannya ibu tersebut adalah seorang agen. Ibu itu bertanya apakah saya pernah mendengar bahwa jika asuransi kesehatan mereka menawarkan proteksi kesehatan sekaligus tabungan keuangan yang jika dalam 10 tahun jumlahnya bisa berkali lipat. Dengan antusias saya menjawab bahwa saya pernah mendengar dengan lebih lengkap penjelasan asuransi tersebut. Kebetulan teman kuliah dulu ada yang bekerja sebagai agen juga, sehingga pernah mendapat penjelasan yang super lengkap.

Namun saya menolak untuk mengikuti karena memang beban tanggungan saya saat ini tidak mencukupi bila ikut serta dengan asuransi tersebut, walapun tidak menutup kemungkinan saya akan mengikutinya suatu hari nanti. Kamipun lama mengobrol tentang kehidupan masing-masing dan ibu itu lebih banyak menyampaikan petuah untuk menabung sejak dini.

Berbicara tentang tabungan, setelah memasuki dunia kerja, tabungan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Tidak seperti masa-masa bersekolah yang menabung untuk membeli sesuatu atau hal lainnya, menabung di usia dewasa memiliki arti lain. Menabung di sini bisa diartikan sebagai modal dan investasi, baik itu biaya menikah, membeli rumah, menjalankan bisnis, biaya berkeluarga atau keperluan lainnya.

Dalam berbagai kesempatan berbincang-bincang dengan beberapa teman, saya cukup mendapat pencerahan dengan berbagai jenis tabungan yang bisa dipakai. Ada teman yang cukup menabung di bank, ada juga teman yang menabung di reksadana atau bermain di jual beli saham, ada yang merasa cukup menabung dalam bentuk emas, ada juga yang berusaha bermain di bidang properti (rumah). Tidak sedikit juga yang menyimpan uangnya dalam bentuk asuransi/proteksi kesehatan, seperti yang sudah saya singgung di atas.

Berbagai tabungan itu bukan tanpa kekurangan, semua ada plus dan minus nya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kebutuhan kita, kondisi keuangan, waktu, resiko masing-masing metode dan berbagai pertimbangan internal lainnya. Sebagai contoh, saya tidak menabung dalam bentuk uang di bank, karena saya tau inflasi per tahunnya lebih besar daripada bunga bank itu sendiri. Selain itu kondisi ekonomi yang belum stabil tidak cukup untuk membuat nilai tabungan di bank menjadi aman. Emas lebih stabil, tidak terlalu terpengaruh kondisi ekonomi (koreksi saya jika salah) dan rata-rata mengalami kenaikan nilai setiap tahunnya. Bisnis properti memang menjanjikan, namun perlu modal besar. Bermain di saham juga memiliki peluang untung yang besar, namun tentu saja peluang ruginya juga besar.

Jika punya uang yang cukup, bisa saja bentuk tabungannya lebih dari satu. Bentuknya pun tidak terbatas dengan yang saya tuliskan di atas.

Sedikit hitung-hitungan yang pernah saya dengar, bunga di bank berkisar 0-2% per tahun, namun inflasi per tahun sekitar 5-8%. Inflasi pendidikan lebih tinggi lagi, berkisar 10-14%. Inflasi kesehatan mencapai 15-20% per tahun. Hitung-hitungan di atas memang cuma gambaran kasar, tapi tetap bisa memberikan perhatian (aware) pada kita tentang tabungan yang harus kita miliki.

Saya pun yang baru memasuki dunia kerja, meskipun bukan ahli ekonomi, tetap memperhatikan dan belajar tentang tabungan yang cocok bagi saya. Saya sendiri beranggapan bahwa tabungan yang cocok dengan seseorang harus disesuaikan dengan kebutuhan orang itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *