Makanan Terenak

Makanan Terenak

Kalau kamu dan saya ditanya apa makanan terenak di dunia? Tentu saja masakan Ibu 🙂

Saya sendiri bukanlah orang yang kalo makan milih-milih. Kalau ada makanan apa saja, pasti saya makan. Namun karena alasan kesehatan, saat ini saya lebih memilih makanan yang menyehatkan juga. Contohnya mengurangi makanan yang berkolesterol tinggi dan mengurangi makanan yang berlemak.

Tren makan saya sekarang adalah buah, nasi, sayuran lebih, dan ikan. Saya memilih ikan karena memang sudah terbiasa makan ikan sejak kecil dibandingkan ayam atau daging lainnya. Syukurlah semenjak kembali ke Jakarta, berat badan bisa turun 5 kilo dalam beberapa bulan. Suasana hati yang lebih banyak cerianya tentu saja membuat ngemil berkurang, walaupun akhir-akhir ini kecenderungan ngemil porsinya sudah meningkat.

Bagaimana makanan yang ideal menurut saya? Makanan yang tidak terlalu ekstrim, entah itu terlalu asin, asam, terlalu pedas, apalagi terlalu dingin (produk es misalnya). Sekali-sekali bolehlah, tapi kalau sering-sering biasanya perut sudah gak kuat. Kalo ditanya soal rasa, saya sih lebih prefer rasa yang natural, tidak diberi penguat rasa seperti MSG juga tidak masalah. Malah saya lebih menyukai masakan yang tanpa MSG, bisa langsung tau rasa asli yang kita makan itu seperti apa.

Sewaktu saya bertugas di site, kami biasanya memasak sendiri kalau mau makan malam atau di hari Minggu. Ketika acara masak-memasak, saya menyadari kebiasaan saya yang suka mencicipi mentahan makanan. Sayur, tempe, bawang, bumbu penyedap, yang masih dalam bentuk mentah dalam potongan-potongan kecil akan saya cicipi sebelum dimasukkan ke dalam belanga. Entah kenapa ada kepuasan kecil ketika tau “Ah, begini rasanya ketika masih belum dimasak”.

Ibuku di rumah tidak pernah menambah bumbu penguat MSG selain dari kecap, garam, bawang, ketumbar, jahe, lengkuas, dan bumbu alami lainnya (yang dulu membuat Indonesia dijajah 350 tahun). Tapi ibuku memang jago memasak, turunan dari nenekku sendiri. Kalo ditanya soal rasa, pasti aku akan jawab “Masakan ibuku paling enak sedunia”. Ada benarnya juga, tanpa penguat rasa sudah menghasilkan rasa yang pas, bukankah itu yang namanya jago memasak?

Saya sendiri bukanlah penyuka makanan cepat saji (fast food). Minuman berkarbonasi seperti Pepsi, Cola, atau daging ayam KFC bukan favorit saya, kebetulan saja karena memang saya tidak terlalu doyan ayam. Kalau ada teman yang ngajak makan fast food, saya tidak akan menolak, toh mungkin kesempatan ke sana mungkin hanya sekali dalam setahun. Tentu saja saya tidak akan merasa rindu kalau tidak ke sana dalam beberapa tahun 😛

Jadi kalau ditanya apa makanan terenak di dunia? Jawabannya tentu saja masakan ibu. Tapi kalau hendak digeneralisir, mungkin makanan yang menyehatkan adalah makanan terenak di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *