Category Archives: Buku

Buku: The Hunger Games

Jumat sore kemarin, 13 April 2012, sepulang rapat di fakultas, saya menyempatkan diri pergi ke toko buku gramedia. Biasanya saya hanya pergi melihat-lihat tanpa membeli, sekedar mengikuti perkembangan buku baru πŸ˜›

Sembari melihat buku-buku baru, saya melihat buku yang lagi marak dibicarakan, The Hunger Games. Buku ini termasuk yang paling ramai dibicarakan di Twitter, termasuk buku sekuel keduanya, Cathing Fire. Film The Hunger Games saat ini memiliki rating yang tinggi sehingga novelnya pun laris di pasaran, walaupun belakangan saya kemudian tau bahwa novel ini sudah terbit tahun 2008.

Buku ini menceritakan seorang gadis kecil, Katniss, dan teman prianya, Peeta, yang terpaksa mengikuti permainan hidup mati pada kompetisi yang diadakan sebagai hukuman atas pemberontakan distrik-distrik di negara yang dulunya adalah Amerika Utara. Saya baru membaca sekitar 50 halaman dan saya menganggap buku ini menarik untuk dibaca sampai habis πŸ˜€

Dengar-dengar sih film The Hunger Games ini serasa nanggungΒ dan menyisakan pertanyaan besar tentang akhir cerita ini. Saya rasa lanjutan cerita ini bakal ada di cerita Cathing Fire.

Update:

Akhir saya selesai juga membaca buku ini. Kisah ini baru menarik dibaca pada pertengahan buku atau memasuki fase pertarungan di lapangan sesama peserta dari ke-12 distrik. Berbagai strategi juga digunakan oleh para peserta untuk menyisihkan lawan-lawannya. Tak lupa juri juga memiliki banyak cara untuk membuat para peserta saling mendekat agar bisa bertarung.

Pada akhirnya kisah cinta antara Katniss dan Peeta bisa menyelamatkan mereka serta bisa membahayakan mereka jika Capitol, ibu kota pusat, mengetahui bahwa kisah asmara mereka hanyalah bualan saja. Saya menangkap adanya pemberontakan kecil yang dilakukan oleh Katniss dan saya rasa cerita pemberontakan ini akan ada di buku ke-2 dan ke-3.

Overall saya memberi nilai 7.9 dari 10 untuk cerita ini dilihat dari harga dan kualitas ceritanya πŸ˜€

Buku: Foundations and Concrete Work

Jumat malam kemaren, sehabis UTS susulan beton lanjut dan rapat rutin admin FTSL, saya pergi ke toko buku gramedia di Jalan Merdeka Bandung. Pertama saya melihat buku-buku di lantai bawah yang menjual buku-buku lama dengan harga murah. Setelah itu saya masuk melalui pintu depan Gramedia yang menghadap BIP (Bandung Indah Plaza).

Begitu saya masuk, akan ada meja dengan banyak buku-buku dan di dinding paling belakang biasanya ada majalah-majalah dari berbagai nama. Buku-buku yang ditawarkan di meja ini biasanya adalah buku-buku baru atau buku-buku yang sedang laris. Namun Jumat kemaren, saya iseng melihat beberapa buku yang ada di sana. Padahal biasanya saya akan langsung naik ke lantai atas. Saya cukup beruntung menemukan banyak buku asing di meja ini. Secara tidak sengaja saya menemukan buku bersampul kuning dengan judul “Foundations and Concrete Work”. Dengan spontan saya langsung membuka buku tersebut dan saya menjadi berseri-seri karena buku tersebut sangat bagus.

Buku ini dilengkapi dengan banyak gambar metode pelaksanaan di lapangan. Yang menarik semuanya penuh dengan gambar berwarna. Semua tata cara menggunakan beton dan membangun pondasi, apa yang harus dipersiapkan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bagaimana memilih metode yang tepat, dan banyak metode lainnya akan bisa dijumpai dalam buku ini. Semua isi buku ini tidak akan ada dalam kuliah di kelas. Dalam hati saya berpikir pasti harganya sangat mahal. Saya membalik buku tersebut untuk melihat harga yang bertuliskan Rp 374.300,00.

Eits, tunggu dulu. Papan kecil di tengah meja buku berkata lain: Diskon 70%. Saya langsung bertanya pada mbak-mbak penjaga buku apakah buku-buku di meja ini memiliki diskon 70%. Kalkulasi harga setelah diskon menjadi Rp 112.300,00. Setelah memastikan buku tersebut memiliki potongan harga, saya langsung mencari buku yang masih bagus dan belum dibuka plastiknya. Saya langsung ke kasir dan membayarkan uang sebesar Rp 112.300,00. Bagi saya harga ini cukup pantas atau mungkin terlalu murah dengan konten yang luar biasa bagus.

Saya memberi nilai 9.5/10 untuk isi konten dan harganya. Menurut saya, kelebihan buku ini bisa dilihat dari kontennya yang berbobot. Penjelasan tidak hanya dilakukan dari sisi teks saja, namun diimbangi dengan gambar-gambar pelengkap yang berukuran cukup besar untuk dilihat. Berbagai tips-tips kecil dan informasi penting disajikan dengan spot yang baik dan menarik untuk disimak. Buku ini menyajikan informasi seputar beton dan pemanfaatannya: untuk dinding, lantai, pondasi, dinding penahan tanah, basement, perkerasan (pavement), dan banyak topik lainnya.

Kekurangan buku ini terletak pada kebutuhan material yang diperlukan seperti tulangan baja dan beton itu sendiri. Perhitungan kekuatan dan kebutuhan material tidak akan ditemui dalam buku ini. Pengecoran kolom dan balok juga tidak disajikan dan diganti dengan pengecoran dinding secara menyeluruh dengan menggunakan beton πŸ™‚

Saya berharap saya menemukan seri lainnya dari buku ini dengan harga yang tetap terjangkau πŸ˜€

Buku: Bocah Penjinak Angin

Cover buku Bocah Penjinak Angin

Buku ini adalah novel kedua yang kutamatkan di liburan ini. Novel sebelumnya yang kuhabiskan adalah Sang Pencuri dari Eddis. Novel ini merupakan terjemahan dari novel The Boy Who Harnessed The Wind. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata seorang anak jenius yang berasal dari negara Malawi di Afrika.

William Kamkwamba adalah seorang anak yang dibesarkan di sebuah desa terpencil dan tertinggal di Malawi. Mereka hidup dari bertani. Kehidupan lingkungan yang sulit membuat mereka mengalami banyak masalah dalam kehidupan mereka. Untuk mengambil air dibutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke sumber air terdekat; untuk mencari kayu bakar dibutuhkan waktu 2 jam masuk ke dalam hutan; ketergantungan pertanian pada hujan membuat mereka mengalami kelaparan sepanjang tahun akibat musim kemarau. Namun itu semua tidak menyurutkan Kamkwamba untuk berjuang dalam kerasnya hidup.

Meskipun dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena tidak mempunyai uang, semangatnya untuk terus belajar lewat buku-buku di perpustakaan membuatnya berhasil menciptakan banyak alat-alat yang membantunya mengurangi beberapa masalah. Salah satu tujuan awalnya ketika melihat kincir angin adalah dia bisa membuat kincir angin seperti itu agar mereka bisa mengambil air dari bawah tanah dan bisa digunakan untuk mengairi air di ladang mereka (sehingga ayahnya tidak perlu masuk ke rawa untuk mengambil air yang letaknya cukup jauh) dan membantu ibunya agar tidak perlu mengambil air bersih dari sumber air.

Rasa penasaran dan otak yang haus akan ilmu pengetahuan membuatnya menarik perhatian banyak orang ke seluruh penjuru bumi. Saya memberi nilai 8.5 dari 10 untuk novel ini dinilai dari harga dan kualitas cerita. Buku ini layak untuk dibaca oleh para pelajar khususnya di negara kita saat ini πŸ™‚

Seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia harus sedikit malu dengan pencapaian yang dilakukan oleh Kamkwamba. Tanpa seorang guru yang mengajarkan ilmu elektronika, dia bisa menciptakan sebuah kincir angin dari barang-barang bekas yang dibuang ke tempat rongsokan. Semangat belajar yang kita miliki masih sangat rendah dan sangat manja dalam hal pendidikan. Jika semua orang seperti Kwamkamba, saya yakin bangsa ini bisa maju dengan cepat. Yang dibutuhkan adalah kerja keras dan semangat untuk berusaha serta tidak perlu banyak bicara.

Saya sendiri sangat terinspirasi dengan kisah-kisah Kamkwamba dan merasa saya butuh banyak ilmu lagi agar bisa menciptakan inovasi-inovasi yang bermanfaat. Saya harap kamu juga terinspirasi dengan cerita ini πŸ˜†

Buku: Sang Pencuri dari Eddis

Cover Sang Pencuri

Kemaren pagi, saya menyelesaikan sebuah novel berjudul Sang Pencuri dari Eddis. Novel ini adalah novel terjemahan dengan judul asli The Thief yang ditulis oleh Megan Whalen Turner.

Buku ini adalah buku yang saya beli di Gramedia Matraman hari Minggu kemaren. Dalam 2 hari saja, saya menghabiskan buku dengan tebal sekitar 300 halaman tersebut. Entah kenapa saya akhir-akhir ini seperti tertarik untuk membaca cerita novel. Dulu saya pernah membeli novel, namun tidak pernah selesai dibaca. Jika buku itu bukanlah best seller atau buku yang menarik, saya tidak akan membaca atau membelinya πŸ˜€

Buku Sang Pencuri ini bercerita tentang Gen, seorang pencuri handal di negerinya yang diminta oleh kerajaan untuk mencuri sebuah harta yang sangat berharga. Masalahnya barang yang dicuri bukanlah di negeri mereka melainkan di negeri yang dipimpin oleh raja lain. Barang yang hendak dicuri pun masih sekedar rumor dan belum pernah ada yang melihatnya.

Geunides, namanya diambil nama yang dewa pencuri di zaman mereka. Gen akhirnya terlibar dengan berbagai masalah dan kejadian-kejadian yang tidak mereka duga-duga. Bagi magus, orang kepercayaan raja yang membawa serta Gen, Gen adalah alat saja. Namun, Gen yang licik memiliki rencana lain dalam misi ini.

Bagi saya sendiri buku ini memiliki alur cerita yang menarik. Gen diceritakan sangat misterius di awal hingga pertengahan cerita. Di bagian ini, dia bahkan tidak diceritakan seberapa hebat dia dalam mencuri dan kehebatannya yang lain. Kemampuannya dalam mencuri mulai diceritakan di pertengahan cerita hingga akhir cerita. Ini yang membuat saya penasaran dengan tokoh Geunides ini.

Latar belakang ceritanya sendiri tidak menentu. Di buku ini diceritakan tentang mitos zaman dewa-dewa Yunani, namun terkadang diceritakan para tentara yang memakai pistol yang kita tahu bahwa bubuk mesiu baru digunakan di abad ke 15. Di akhir buku ini memang diceritakan bahwa buku ini disusun dari latar belakang yang berbeda-beda dan dikombinasikan ke dalam satu cerita yang menarik.

Saya sendiri memberi nilai 7 dari 10 untuk buku ini dilihat dari kesesuaian harga dan isi cerita. Saat ini saya juga sedang membaca novel lainnya, Bocah Penjinak Angin, yang saya beli seminggu yang lalu. Justru buku ini yang belum selesai dibaca πŸ˜†