Dikejar Ombak

July 12, 2011 by · Leave a Comment 

Kupersembahkan untuk orang-orang dari kota tercinta 🙂

Gempa baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Suasana tiba-tiba menjadi kacau. Banyak orang keluar rumah begitu gempa terjadi untuk menghindari kecelakaan jika sendainya bangunan yang mereka tempati roboh. Beberapa rumah dan gedung roboh akibat guncangan gempa yang kuat.

Aku yang sore itu berada di kawasan pantai untuk menikmati terbenamnya matahari sore mendadak sedikit panik. Aku mengamati gedung-gedung dan tiang-tiang listrik yang masih bergoyang akibat gempat tersebut. Guncangannya begitu terasa hebat dan aku merasa kalau ini adalah guncangan gempa terbesar yang pernah kurasakan. Orang-orang yang sedari tadi duduk di tembok pembatas pantai mengamati keadaan sekitar.

Ada yang aneh sore itu. Air laut mulai surut perlahan-lahan. Awalnya cuma beberapa meter saja, namun surutnya air makin cepat dan meninggalkan daratan pasir yang semakin melebar. Kini tampaklah hamparan pasir pantai yang panjang ke arah lautan. Cekungan pasir yang semakin besar di tengah laut membuatku berada di sebuah kolam raksasa tanpa air. Air laut seolah-olah tidak mau bersatu lagi dengan daratan dan pergi dengan cepat ke arah matahari terbenam.

Kali ini aku menyaksikan pemandangan langka. Banyak ikan-ikan kecil yang meloncat-loncat di pantai. Air laut terlalu cepat untuk pergi dan lupa membawa ikan-ikan tersebut bersamanya. Kapal-kapal nelayan di kejauhan di sebelah pantai sana kini diam tak bergerak. Kapal-kapal tersebut seperti mengingatkanku tentang cerita nabi Nuh yang membangun kapal di gunung. Tidak ada air di sini.

Orang-orang yang memiliki latar pendidikan yang rendah segera turun ke pantai. Mereka mengambil ikan-ikan yang berloncatan dan dengan mudah memasukkannya ke dalam keranjang yang mereka bawa. Orang-orang mulai berteriak,

“Hei kamu cepat naik ke darat! Sebentar lagi akan ada Tsunami!”

Orang-orang yang tadinya mengambil ikan-ikan kini bergerak mengambil ikan dengan cepat. Jarang sekali mereka bisa mendapatkan ikan seperti ini dengan mudah. Orang-orang yang tak peduli dengan teriakan itu seolah-olah tak sadar akan bahaya yang mengancam mereka.

Aku pun mulai panik. Aku panik bukan karena aku tidak bisa menyelamatkan diri, tapi aku mengkhawatirkan bapak, ibu, dan adik-adikku. Bapak bekerja sebagai nelayan yang 2 hari lalu pergi melaut untuk mencari ikan. Ibu sendiri menjual ikan-ikan hasil tangkapan bapak di pasar tradisional di sekitar pelabuhan. Pasar tersebut selalu ramai dengan orang-orang yang membeli ikan-ikan dan menjualnya kembali di berbagai tempat di seluruh kota. Aku khawatir ibu tidak mengetahui air yang surut tersebut dan aku berpikir bapak juga masih melaut sore ini. Sepengetahuanku dua orang adikku sore ini mengadakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah mereka yang tak jauh dari pantai.

Kota ini memang berada di dekat laut. Kondisi pegunungan yang dekat dengan pantai menyebabkan kota ini kecil dan memanjang searah dengan garis pantai. Tidak dapat dihindari seluruh wilayah kota mendapatkan pengaruh besar dari pantai.

Aku mulai menghubungi adik-adikku sambil berlari-lari kecil ke arah tempat motorku diparkirkan.

“Mario, cepat bawa adikmu keluar dari sekolah. Tadi ada gempa besar dan sekarang pantai sudah kering. Kemungkinan tsunami akan datang.”

“Iya. Kegiatan sekolah baru saja dibubarkan. Sekarang kami mau pergi ke aula kota.”

Aku gembira mendengar kabar tersebut. Tinggal bapak dan ibu yang belum dihubungi. Saat mengendarai motor sambil mencoba menghubungi ibu, aku mendengar suara sirene dibunyikan. Suara sirene itu terdengar nyaring ke seluruh penjuru kota. Sirene itu ditempatkan di atas sebuah bukit di utara kota ini. Dengan demikian suaranya bisa terdengar ke seluruh kota. Sirene itu memang sengaja dibangun untuk memberitahukan penduduk kota pada bahaya tsunami. Begitu pemerintah kota mengetahui adanya gempa yang mengakibatkan potensi tsunami, maka sirene akan dibunyikan yang berarti menyuruh penduduk kota untuk segera meninggalkan daerah pantai secepat mungkin.

Keadaan kota kini mulai kacau. Penduduk mulai mengambil barang-barang berharga mereka untuk dibawa ke wilayah dataran yang lebih tinggi. Televisi, mobil, motor, pakaian bersih, makanan dan minuman adalah barang-barang yang banyak mereka bawa. Rumah-rumah yang banyak terlihat mulai kosong sangat rentan dengan pencurian. Syukurlah di kota ini tidak banyak orang yang suka mencuri, apalagi jika kondisinya seperti ini.

Sebagai mahasiswa sipil, aku banyak mengetahui tentang gempa dan tsunami. Aku lantas teringat dengan pelajaran struktur bangunan yang kupelajari di kampus. Bangunan tahan gempa dirancang untuk tidak runtuh ketika terjadi gempa. Meskipun bangunan tersebut rusak parah, selama bangunan itu tidak runtuh, maka bangunan itu sudah termasuk bangunan tahan gempa. Bangunan didesain tidak runtuh agar penghuni rumah tersebut bisa menyelamatkan diri keluar dari rumah dan menghindari adanya korban jiwa. Tapi itu bangunan tahan gempa, aku tidak yakin bangunan di sini kuat menahan energi yang disebabkan oleh tsunami.

Berbicara tentang energi tsunami, besarnya energi air tidak hanya disebabkan oleh jumlah airnya yang besar, kecepatan air yang tinggi juga sangat berpengaruh pada energi yang dihasilkan. Contohnya jika kau ingin menyeberangi sungai sedangkal mata kaki namun dengan kecepatan tinggi, jangan coba-coba untuk berusaha menyeberanginya atau kau akan terseret oleh arus air.

Tsunami juga begitu, walaupun kau tau bahwa tsunami akan setinggi betismu, berusaha untuk menghindari daerah pantai adalah tindakan yang rasional jika dibandingkan dengan berdiri menyambut tsunami di tepi pantai.

Aku kembali mencoba menghubungi ibuku setelah tadi sempat gagal beberapa kali. Asalkan mereka tau bahwa tsunami akan datang dan segera berpindah tempat, itu sudah cukup mengurangi rasa khawatirku. Untunglah aku sempat mengajari mereka beberapa hal tentang gempa sehingga aku tidak terlalu khawatir mereka kesulitan mencari tempat yang aman untuk berlindung.

Bangunan tahan gempa didesain berdasarkan peraturan yang berlaku. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi desain atau rancangan bangunan tahan gempa: kondisi tanah tempat gedung akan dibangun, daerah zona gempa, berat bangunan, dan tinggi bangunan. Beberapa faktor lain yang ditentukan sendiri oleh perancang bangunan adalah koefisien keutamaan gedung dan koefisien akibat bentuk struktur dan material yang digunakan untuk membangun gedung tersebut.

Semakin berat sebuah gedung, maka semakin besar pula pengaruh gempa pada bangunan tersebut. Bukan hanya itu saja, jika kau membangun sebuah gedung dengan jarak antar lantai yang variasinya tinggi, maka lantai yang posisinya berada di atas lantai di bawahnya yang selisih tinggi lantainya besar, maka lantai itu akan mendapat pengaruh gempa yang sangat besar. Semakin ke atas, pengaruh gempa semakin besar pula. Kau akan merasakan guncangan yang sangat hebat di lantai paling atas sebuah gedung.

Aku telah memberitahukan kepada keluargaku, jika terjadi gempa atau tsunami, akan lebih aman jika berada di sebuah rumah sakit. Faktor keutamaan gedung ini sangat tinggi yang menyebabkan rumah sakit tidak boleh runtuh jika terjadi bencana seperti gempa.

Berhubung di sini adalah kota kecil, sangat sulit menemukan gedung-gedung tinggi yang dilengkapi dengan corewall. Corewall adalah dinding yang terbuat dari beton bertulang yang biasanya terletak di gedung bangunan tinggi untuk menahan gempa. Jika kebetulan kau berada di sebuh gedung, lebih aman untuk berlindung di dekat lift atau tangga darurat dibandingkan jika berlindung di kolom-kolom besar di gedung itu. Corewall biasanya dibangun sebagai pelindung lift berbentuk segi empat atau dibangun sebagai dinding-dinding penutup tangga darurat.

Ponselku berbunyi ketika kulihat itu adalah panggilan dari ibuku. Aku segera mengangkat telepon dan menanyakan kabar mereka. Dari percakapan tersebut, kini aku tau kalau ibu dan bapak sekarang berada di aula kota di dekat perbukitan di utara kota ini. Bapak tadi siang sudah kembali dari laut. Mereka tidak mendapatkan ikan hasil tangkapan selama 2 malam. Sepertinya ikan-ikan itu tau akan bencana yang datang hari ini. Selama beberapa hari belakangan ini, aku juga sering mengamati tikus-tikus kota yang semakin banyak keluar dari got dan suara jangkrik yang semakin terdengar ramai di malam hari. Aku yakin makhluk-makhluk kecil itu bisa merasakan getaran-getaran kecil yang tidak dirasakan oleh manusia.

Aula itu berada di belakang sebuah bukit. Bangunan itu dibangun dengan menggunakan kombinasi beton dan baja. Tidak seperti aula kota, di kota kecil seperti ini, bangunan masih didominasi oleh kayu. Namun entah mengapa, beberapa tahun yang lalu penggunaan kayu sudah dilarang di kota ini. Bahkan kau pun tidak bisa menebang pohon yang berada di halaman rumahmu sendiri jika kau tidak mendapatkan izin langsung dari pemerintah kota. Sepengetahuanku, kayu-kayu itu dilarang ditebang agar kerindangan kota tetap terjaga.

Aku kini tenang karena semua anggota keluargaku berada di aula. Aku pun segera berangkat ke aula kota. Sudah 20 menit sejak gempa tersebut berlangsung. Kami semua tidak tau kapan tsunami itu akan datang, semuanya tergantung pada lokasi pusat gempa dan jaraknya dari kota kami.

Aku sampai di aula kota dan mengamati sudah banyak orang di sana. Aula itu menggunakan baja sebagai kolom dan balok penopang dan beton sebagai pelat lantainya. Dari kejauhan aku bisa melihat balok-balok baja profil I yang tengahnya banyak bolong berbentuk segi enam. Balok-balok itu memang didesain demikian karena gaya-gaya yang terjadi di tengah profil balok biasanya kecil dan bahkan nol sehingga membuang beberapa bagian baja di bagian tengah ini akan menghemat biaya pembangunan.

Aku segera mencari keluargaku dan menemukan mereka di dekat sebuah pintu masuk aula. Kami segera berkumpul dan menunggu kabar dari pemerintah kota.

Sekitar 10 menit kemudian kami mendengar kabar di televisi yang memberitakan bahwa pusat gempat tersebut berada di 157 km di barat laut kota kami. Tsunami telah merusak beberapa kota dan menghancurkan banyak bangunan. Daerah pantai menjadi pemandangan terburuk yang terjadi selama tsunami berlangsung.

Suasana menjadi gelap pada saat menjelang malam. Dari pemerintah kami ketahui, kota kami mengalami kerusakan yang sedikit di daerah pantai. Sebuah pulau yang terletak di barat kota kami menjadi penghalang alami bagi tsunami yang datang ke arah kota kami. Syukurlah tidak banyak kerugian yang terjadi di kota ini.

Di beberapa kota di pantai barat, penggunaan breakwater sudah dilakukan semenjak setahun yang lalu. Breakwater adalah kumpulan bebatuan yang terbuat dari beton bertulang yang dipasang di sepanjang pantai. Breakwater ini bertugas untuk memecah atau menghamburkan energi gelombang laut yang biasanya terpusat, jadi bukan untuk menahan gelombng air laut. Dengan energi yang terpecah ini, maka daya rusaknya semakin kecil pada bangunan-bangunan pantai. Kota ini tidak menggunakan breakwater, namun di kota-kota lain, breakwater mampu mengurangi efek perusak dari tsunami.

Sekali lagi aku cukup beruntung tinggal di kota ini. Kota yang penuh kenangan semenjak aku kecil. Seperti kata petapah, lebih baik mencegah kerusakan daripada membangun sesuatu yang baru dari awal, sesuatu yang mungkin saja menghapus kenangan kita akan sejarah sebuah kota. Biarlah semua ilmu dan kenangan itu dipahat pada sebuah batu yang tidak lekang oleh waktu, bukan pada pasir pantai yang akan hilang disapu oleh deburan ombak.