Category Archives: Ceritaku

Beberapa Engineer Struktur yang Baik

Cerita di bawah ini adalah terjemahan dari A Few Good Engineers yang merupakan adaptasi percakapan sebuah film berjudul A Few Good Man yang dibintangi oleh Tom Cruise.

Dalam percakapan yang sudah diadaptasi ini, seorang engineer struktur (Eng) berbincang-bincang dengan seorang arsitek (Ar). Percakapan ini tidak bermaksud untuk menyingung pihak manapun, hanya guyonan fiksi yang dibuat untuk hiburan semata 😀

Eng: Kamu menginginkan jawaban?

Ar: Saya rasa saya berhak mendengarkannya.

Eng: Kamu menginginkan jawabannya?!

Ar: Saya menginginkan kebenaran!

Eng: Kamu tidak siap mendengarkan kebenarannya.
Lihatlah, kami tinggal di dunia yang memiliki hal yang kami sebut BALOK, GIRDER, dan KOLOM. Semua itu digunakan untuk MENOPANG BANGUNAN. Siapa yang akan MERANCANG SEMUA ITU? Kamu?
Kamu Tuan Arsitek?

Saya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada yang bisa kamu bayangkan. Kamu mengeluh ketika JARAK ANTAR LANTAI YANG TERLALU KECIL dan menggerutu pada UKURAN GIRDERKU YANG BESAR.

Kamu punya kemewahan itu, kamu punya kemewahan untuk tidak perlu tau apa yang aku tau: GIRDER-GIRDER ITU, ketika terjadi musibah, mungkin akan menyelamatkan banyak jiwa. Kehadiranku yang kacau dan tidak bisa dimengerti olehmu, menyelematkan jiwa-jiwa itu.

Kamu tidak ingin jawaban. Karena pada kenyataannya, di tempat-tempat yang kamu tidak ingin membicarakannya di pesta, kamu MENGINGINKANKU untuk berada dalam TIM DESAIN. Kamu MEMBUTUHKANKU untuk berada dalam TIM DESAIN.

Kami menggunakan istilah DESAIN, CODE, ANALYSIS… kami menggunakannya sebagai landasan kami untuk MENGHASILKAN KEAMANAN DAN KENYAMANAN STRUKTUR.

Kamu menggunakannya sebagai lelucon. Saya tidak punya waktu ataupun tertarik untuk menjelaskan DESAINku pada orang yang bangun dan tidur di dalam selimut pada bangunan yang saya buat AMAN, lalu mempertanyakan kenapa aku seperti itu.

Saya lebih suka kamu datang mengucapkan terimakasih lalu pergi kembali mengerjakan tugasmu.

Kalau tidak, saya menyarankanmu untuk mengambil dan membaca MANUAL BAJA dan mulailah MENDESAIN RANGKA BAJA.

Apapun yang terjadi, saya tidak akan mengutuk apa yang berhak kamu dapatkan.

Ar: Apakah kamu MEMBESARKAN UKURAN GIRDER DAN KOLOM?

Eng: (Terdiam) Saya melakukan pekerjaan yang kamu INGIN aku kerjakan.

Ar: (Membentak) Apakah kamu MEMBESARKAN UKURAN GIRDER DAN KOLOM?

Eng: Ya, kamu benar! Aku membesarkan ukurannya.

–SELESAI–

Terlepas dari cerita di atas, sebenarnya khusus untuk wilayah-wilayah di Indonesia yang rawan gempa, struktur yang dibangun di wilayah gempa umumnya memiliki ukuran struktur yang sudah diperkecil agar biaya struktur tidak menjadi mahal (tahan gempa). Seandainya saja struktur dibuat anti gempa/anti-earthquake (berbeda dengan tahan gempa/earthquake resistant), ukuran struktur mungkin jauh lebih besar daripada yang diharapkan.

Font Apa yang Kamu Pakai?

Ketika kita mengetik suatu dokumen, kita mungkin pernah berada dalam posisi menentukan jenis font yang cocok dipakai untuk dokomen kita. Ketika dulu sewaktu SMP kita masih sering mengidolakan  font Comic Sans, mungkin tidak lagi ketika dokumen yang kita buat sudah bersifat formal atau dipakai dan dibaca oleh orang lain. Saya pun banyak belajar banyak tentang penggunaan font dan kapan menggunakan jenis font tertentu pada jenis dokumen yang tepat.

Menjadi web programmer beberapa tahun belakangan ini memang membuat saya belajar banyak bahwa ilmu tentang font memang cukup luas. Hubungan font dengan web programmer apa? Tentu saja web programmer yang bertugas membuat halaman web harus bisa membuat tampilan web yang menarik untuk dibaca, tentu saja font juga harus diperhatikan. Ilmu tentang font memang sudah lama ada, Typography, namun tidak ada salahnya untuk belajar ilmu yang satu ini. Mohon koreksinya jika ada kesalahan.

Dilihat dari bentuknya, font bisa dikategorikan menjadi 2:

  1. Sans-serif, adalah tulisan yang tidak memiliki garis kecil di tiap ujungnya. Sans artinya adalah tanpa, sedangkan serif adalah garis kecil pada ujung font. Contoh font ini adalah Arial, Arial Black, Ubuntu, Segoe UI, dan Tahoma. Masih ada banyak contoh lainnya.

    Serif_and_sans-serif_01
    Source: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Serif_and_sans-serif_01.svg
  2. Serif, adalah tulisan yang memiliki garis kecil di tiap ujungnya. Contoh font ini adalah Times New Roman, Georgia, Utopia dan lain sebagainya.

    Serif_and_sans-serif_02
    http://en.wikipedia.org/wiki/File:Serif_and_sans-serif_02.svg

Lalu bagaimana menentukan font yang tepat? Pertama periksa dulu apakah dokumen yang dibuat lebih dominan dibaca di layar komputer atau akan dicetak ke dalam kertas. Jika lebih dominan dibaca di layar komputer, pilihlah font bertipe Sans-serif. Font jenis ini lebih akan mudah dibaca di layar komputer. Contoh font favorit saya adalah Segoe UI (biasa saya pakai mengirim email dengan Outlook), Tahoma (biasa untuk website), atau Lato (font website ini pada saat tulisan ini dibuat). Font jenis sans-serif lebih cocok ditampilkan dalam ukuran kecil (10-11 pt).

Segoe-UI Light, Source:http://www.microsoft.com/typography/fonts/images/small/Segoe-UI-Light.png
Segoe-UI Light, Source:http://www.microsoft.com/typography/fonts/images/small/Segoe-UI-Light.png

Untuk dokumen yang dicetak ke dalam kertas, lebih baik menggunakan font serif karena menghasilkan cetakan yang lebih bagus bila dilihat oleh mata, walaupun tidak menutup kemungkinan beberapa font sans-serif akan tampak bagus bila dicetak di atas kertas.

Buat kamu yang sering membuat dokumen yang banyak memuat rumus (formula) matematika, mungkin kamu tertarik menggunakan paket software LaTeX. Software ini memang dikhususkan untuk mengelola dokumen dengan cara yang berbeda dengan software office seperti Microsoft Office atau LibreOffice. Salah satu kelebihannya adalah tersedianya font yang memang dirancang untuk keperluan rumus matematika.

Font Computer Modern
Font Computer Modern pada paket LaTeX

Saya tertarik dengan font Utopia yang saya temukan bersama paket LyX. Lyx adalah antar muka LaTeX sehingga kita hanya fokus pada isi dokumen, tidak perlu mengetahui banyak tentang perintah (command) pada LaTeX. Sebagai perbandingan, coba kamu lihat jenis font lain pada paket TeX.

Font Utopia pada paket LyX
Font Utopia pada paket LyX

Font Utopia didesain untuk menghandle formula matematika namun nyaman dibaca untuk text biasa (non-formula). Saya bahkan mencetak sebuah cerita dengan menggunakan font ini dan saya sangat menyukainya.

Jika kamu bosan dengan Times New Roman, mungkin kamu layak mencoba font Linux Libertine (Wikipedia) yang menurut saya cukup bagus untuk dicoba. Font ini memang ditujukan sebagai font yang sifatnya free sebagai alternatif Times New Roman. Di halaman websitenya, ada contoh halaman pdf untuk membandingkan kedua jenis font.

Linux Libertine vs Times New Roman
Linux Libertine vs Times New Roman

Ada ribuan font yang mungkin bisa digunakan yang tersebar di internet, namun saya rasa hanya sedikit yang layak digunakan untuk dokumen. Kalo saya sih memang pemilih dalam urusan font. Jika memang tidak ada aturan baku dari kantor atau dari kampus tentang penggunaan font, saya lebih cenderung memakai font yang menurut saya lebih baik dari yang lain. Font di atas adalah beberapa pilihan font favorit saya 🙂

Sibolga Bukan Medan

Percakapan yang sering saya alami adalah kebanyakan orang menganggap bahwa kota Sibolga itu sama dengan kota Medan.

Teman: “Kamu asalnya dari mana?”
Saya: “Dari Sibolga.”
Teman: “Itu Medan bukan?”
Saya: “…”

Saya tidak tau apakah semua orang mengeneralisir bahwa hanya ada 1 kota di Sumatera Utara, yaitu Medan dan semua orang Batak tinggal di Medan. Sekarang coba saya buat percakapan yang identik dengan percakapan saya di atas sebagai perbandingan.

A: “Kamu asalnya dari mana?”
B: “Dari Cirebon.”
A: “Itu Bandung bukan?”

A: “Kamu asalnya dari mana?”
B: “Dari Tegal.”
A: “Itu Semarang bukan?”

A: “Kamu asalnya dari mana?”
B: “Dari Banyuwangi.”
A: “Itu Surabaya bukan?”

Kalo kamu tinggal di Jawa, pasti tau kalo pertanyaan balik si A ga nyambung dengan jawaban si B. Kamu akan kesal kalau kampung halamanmu seenaknya diganti oleh orang lain 😀

Ada jarak sekitar 10 jam menggunakan travel dari kota Medan dan Sibolga, sehingga Medan tidak bisa disamakan dengan Sibolga. Kalau Medan ada di sebelah Timur (Utara) pantai Sumatera, maka Sibolga ada di pantai Barat Sumatera. Demikian juga saya ketika pertama kali mendengar nama kota, saya tidak langsung mengasumsikan bahwa kota tersebut dekat dengan ibukota. Lebih aman berasumsi dan menanyakan balik provinsi kota tersebut alih-alih menayakan ibukotanya.

Teman: “Kamu asalnya dari mana?”
Saya: “Dari Sibolga.”
Teman: “Itu Sumatera Utara bukan?”
Saya: “Iya, di pantai barat Sumatera Utara.”

Teman: “Kamu asalnya dari mana?”
Saya: “Dari Sibolga.”
Teman: “Dari Medan jauh ga?”
Saya: “Masih jauh.”

Yak, demikianlah sebuah percakapan agar kamu tidak dianggap lawan bicaramu tidak mengenal peta dan letak geografis Indonesia 🙂

Hantu Kamar Mandi Sekolah

Pada suatu hari ketika dulu masih masa Sekolah Dasar, banyak terdengar rumor bahwa kamar mandi di sekolah ada hantunya. Ada yang percaya, banyak juga yang tidak percaya, bahkan yang cuek juga ada. Kebetulan sekolahku dulu masih dalam tahap pembangunan gedung baru, jadi keadaan sekolah masih banyak yang bersifat sementara (temporary), termasuk kamar mandi.

Suasana gedung sekolah juga bisa dibilang remang-remang, tidak banyak cahaya yang masuk, penerangan dari lampu juga terbatas. Apalagi kamar mandi hanya diterangi lampu secukupnya. Kondisi kamar mandi tidak banyak berbeda dari kamar mandi pada umumnya, ada bilik kamar mandi jongkok dan tiap bilik dibatasi oleh pintu dan 3 sisi dinding. Ada sekitar 4 bilik yang berjejer sederet. Di depan bilik tadi terdapat sebuah selokan khusus untuk buang air kecil untuk anak laki-laki.

Hingga pada suatu hari berikutnya, ketika saya berada di ruangan kelas, ada berita yang mengabarkan bahwa hantu kamar mandi benar-benar ada. Buktinya, sebuah pintu bilik kamar mandi tertutup dan tidak bisa dibuka! Beberapa usaha sudah dilakukan untuk membuka pintu, lalu mengetuk-ngetuk pintu siapa tau ada orang yang tertidur atau pingsan di dalamnya. Namun tidak ada balasan.

Saya menjadi penasaran dan segera menuju kamar mandi. Suasana menjadi begitu ramai karena adanya berita ini. Namun, seingat saya tidak ada guru yang berada di sana. Ruangan guru cukup jauh dari jangkauan pandangan ke arah kamar mandi. Saya pun yang ketika itu duduk di kelas 6 segera masuk dan melihat pintu yang tertutup.

Saya mencoba membuka pintu namun tidak bisa dibuka. Saya melihat berbagai kemungkinan untuk bisa segera membuka kamar mandi dan membubarkan kerumunan.

Kamar mandi ini ditutupi oleh 4 sisi, namun ke-empat sisi ini tidak menutup hingga lantai di atas. Bilik kamar mandi hanya setinggi 2 meter! Ahaa, mungkin saya bisa masuk ke bilik sebelah dan naik dari atas lalu masuk ke dalam bilik yang tertutup. Saya pun lalu mencoba naik melalui bilik disebelahnya. Agak susah untuk bisa memanjat hingga ke atas karena tubuh saya sewaktu SD tidak cukup tinggi untuk memanjat dinding setinggi orang dewasa.

Sayapun berhasil naik lalu turun ke kamar mandi yang tertutup. Tidak ada siapa-siapa di sana. Pintu kamar mandipun tertutup dari dalam. Saya memeriksa keadaan bilik sebentar lalu kemudian membuka pintu. Saya pun berteriak, “Tidak ada siapa-siapa di dalam. Ayo semuanya bubar!”

Saya pun kemudian bergerak menuju kelas. Saya lalu membuka kemungkinan bahwa bisa saja ada orang lain yang sengaja menutup pintu bilik kamar mandi lalu memanjat naik ke bilik di sebelahnya. Tapi siapa yang tau?

Hal Menantang Menjadi Administrator Sistem

Selama kurang lebih 4 tahun menjadi administrator sistem, apa hal yang menurut saya paling menantang?

  1. Upgrade dan migrasi sistem, menurut saya proses upgrade/migrasi lebih menantang daripada instalasi awal. Tahap instalasi (awal) tidak beresiko apapun karena data-data user belum ada. Tapi dalam tahap upgrade ataupun migrasi sistem, kita harus memikirkan data-data pengguna sistem. Data-data di sini bisa diartikan seperti email, website, database, file, konfigurasi, dan data lainnya yang dianggap penting. Upgrade juga lebih memerhatikan tata cara upgrade agar tidak ada langkah yang salah yang mengakibatkan keseluruhan sistem rusak, tidak bisa dipakai, atau kehilangan data. 
  2. Backup, proses ini bisa dibilang susah-susah-gampang. Susah karena kita harus memikirkan skema backup yang akan digunakan. Gampang karena beberapa proses backup/restoring sederhana hanya mengandalkan copy-paste. Namun, sistem yang baik akan memperhatikan lebih proses backup dan restoring ini. Layanan yang berbeda akan menggunakan sistem backup yang berbeda. Hal yang paling penting adalah, tidak semua proses backup hanya mengandalkan copy file. Backup bisa juga diartikan sebagai proses menawarkan sistem alternatif lain sebagai pengganti sistem utama. Contoh yang bisa diambil adalah dalam kasus web server. Backup paling sederhana adalah copy semua file dan backup semua database. Ketika sistem utama rusak, maka backup akan dikembalikan ke sistem utama. Namun, backup bentuk lain bisa diartikan sebagai load balancing. Ketika sistem utama rusak, ada sistem alternatif lain yang selalu siap menggantikan sistem utama yang rusak. Jenis load balancing ada banyak. Dalam kasus web server, load balancing bisa dipakai di sistem DNS (round robin), sistem database (master & slave), menggunakan proxy load balancing, atau bisa juga menggunakan perangkat yang membagi beban kerja beberapa server untuk tugas yang sama. Saya ingin sekali mencoba semuanya, tapi sayang saya tidak punya cukup waktu untuk bisa mempelajari semuanya 🙂

Artikel Pertama di Media Cetak dan Online

Sebenarnya saya malu menulis artikel ini. Ini adalah cerita tentang pengalamanku menulis di media cetak sekitar 6 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 3 SMA. Kalau diingat-ingat kembali dan dilihat kembali apa yang pernah saya tulis, rasanya artikel tersebut banyak kekurangannya.

Semenjak saya memiliki komputer ketika kelas 2 SMA, saya menjadi cukup sering membeli tabloid komputer atau sekedar membaca majalah komputer milik teman saya. Waktu itu pernah komputer saya terserang virus (saya bahkan tidak tau komputer saya sedang bervirus). Ngomong-ngomong, yang saya bicarakan di dalam keseluruhan artikel ini adalah worm yang cepat menyebar dan sifatnya cuma mengganggu (bukan virus yang menginfeksi file). Untuk kemudahan imajinasi pembaca yang sudah terlanjur familiar dengan kata tersebut, saya akan menyebut virus, alih-alih sebutan worm. Setelah install ulang, saya menjadi penasaran dengan objek yang bernama virus. Saking seringnya saya bermain komputer, bahkan ibu saya sempat berkomentar, “Jangan keseringan main komputer, awas nanti virus komputernya kena ke manusia”. Untung saya tau kalau virus komputer tidak sama dengan virus yang kita kenal di pelajaran biologi.

Keisengan saya dan obsesi saya dengan virus komputer membuat saya seolah-olah beternak virus: mengumpulkan berbagai macam virus. Biasanya virus tersebut saya peroleh dari flashdisk teman saya atau saya peroleh dari warnet yang menjadi sarang virus. Virus itu kemudian sengaja diaktifkan dan kemudian saya berusaha membersihkan virus tersebut. Pengalaman yang aneh ini membuat saya terbiasa dengan lingkungan komputer penuh virus dan cukup tau sifat-sifat virus pada umumnya.

Sering kali, ketika hendak membersihkan komputer yang sudah terkena virus  atau sekedar mengecek apakah komputer itu sudah terkena virus atau tidak, ada saja kendalanya. Entah itu antivirusnya yang belum terinstall, entah itu antivirusnya yang tidak up-to-date, atau sering juga malah antivirusnya yang sudah lumpuh gara-gara virus.  Terbersitlah ide bagaimana mendeteksi suatu komputer apakah sudah terkena virus atau tidak, namun jika biasanya menggunakan antivirus yang sudah terinstall di PC, kali ini saya memikirkan bagaimana kalau antivirusnya ada di USB flashdisk. Ketika flashdisk dicolokkan ke dalam komputer, maka antivirus akan segera dijalankan untuk mengecek apakah ada virus atau tidak di komputer tersebut. Idenya sih sederhana, tapi sepertinya belum ada orang yang mencoba saat itu.

Konsep ini bahkan saya dapatkan dari kebiasaan virus itu sendiri dengan mengeksplotasi autorun pada Windows XP. Jika flashdisk umumnya dijadikan sebagai media untuk mengaktifkan virus, maka kali ini flashdisk dijadikan media untuk mengaktifkan antivirus. Too simple right?

Akhirnya saya mulai menulis artikel tersebut dengan judul asli “Pendeteksian Virus pada Computer dari Removable Disk“. Ada total 5 artikel yang saya tulis waktu itu dan saya kirimkan dalam 2 buah email ke majalan PCPlus. Waktu itu saya belum pernah mengirimkan artikel apapun ke media cetak dan ini menjadi artikel pertama yang pernah saya kirimkan. Waw, beberapa minggu kemudian (atau beberapa bulan kemudian), saya dikabari melalui email bahwa artikel saya akan diterbitkan sebulan kemudian, Yei.

Saya kemudian diminta mengirimkan nomor rekening dan akan mendapatkan uang sebesar Rp 300.000,00. Jumlah tersebut menurut saya sangat besar untuk ukuran anak SMA waktu itu. Saya juga tidak lupa membeli tabloidnya pada hari di mana artikel saya diterbitkan. Saya cukup senang waktu itu. Ada nama dan alamat emailku serta artikel yang bisa dibaca oleh orang banyak. Judulnya berubah menjadi “Deteksi Virus PC dari FlashDisk

Pada beberapa minggu selanjutnya, banyak email yang masuk untuk menanyakan ini itu atau cuma sekedar kenalan. Tak lupa juga ada email spam pertama yang sampai di inbox-ku yang bercerita tentang seorang asing di luar Indonesia yang hendak mewariskan uangnya pada orang yang menerima email tersebut.

Beberapa artikel juga saya kirimkan ke tabloid yang sama, namun sepertinya tidak menarik. Semenjak itu, saya mulai menulis artikel online di internet. Media pertama yang saya sambangi adalah ilmukomputer.com. Namun 3 tahun yang lalu, saya menghapus semua artikelnya karena saya malu melihat isinya. Lagi-lagi alasan malu ini saya pakai untuk menutupi kekurangan saya. Namun apa mau dikata, saya sendiri adalah orang yang cukup pemalu, baik itu di hadapan cewek ataupun di hadapan orang yang tidak saya kenal.

Namun saat ini, saya lebih suka menulis di media internet seperti blog. Rasanya banyak orang akan bisa melihat dan menilai bagus tidaknya serta bermanfaat tidaknya artikel tersebut buat mereka. Media internet akan lebih mudah diupdate jika memang memiliki kekurangan.

Begitulah sedikit cerita tentang pengalaman pertamaku menulis di media cetak. Untuk kesempatan berikutnya, mungkin saya akan menulis di media cetak dalam bentuk lain, mungkin dalam bentuk buku. Amin 😀

Kini tulisan-tulisan tersebut sudah tidak layak layak diimplementasikan (meskipun bisa) karena menurut saya banyak kekurangannya dan sudah tidak mengikuti perkembangan zaman. Sekarang ini, saya sudah tidak terlalu memikirkan virus karena sudah berganti ke sistem operasi Linux yang jarang sekali (bahkan belum pernah nemu) ada virus yang mengganggu aktifitas berkomputer. Kalau kamu penasaran dengan isi artikel tersebut, ini saya upload kembali artikel yang sempat saya banggakan tersebut (cie :p).

  1. Pendeteksian Virus pada Computer dari Removable Disk – Artikel asli yang dikirim ke Tabloid PCPlus
  2. Pendeteksian Virus pada Computer dari Removable Disk – Artikel yang sudah diedit dan diterbikan di Tabloid PCPlus
  3. duken_mengganti password administrator pada windows – Ilmukomputer.com
  4. Duken – Mengganti Password Akun Windows lewat CMD – Ilmukomputer.com

Naik ke Level 2 Les Bahasa Jepang

Selasa, 26 Februari 2013 dan Senin, 4 Maret 2013, saya mengikuti ujian kenaikan level bahasa Jepang yang saya ikuti di BLCI (Bandung Language Center Indonesia). Puji Tuhan, saya akhirnya lulus dan naik ke level 2 🙂

Bagi saya, kenaikan level ini membuat saya sangat senang sekali. Namun bukan sekedar senang karena saya tidak perlu mengulang pelajaran level 1 (retake), tapi lebih karena saya bisa menambah pengetahuan bahasa saya di sela-sela kesibukan saya yang sudah bekerja. Lebih senangnya lagi mengingat 2 bulan yang lalu saya bahkan tidak bisa bahasa Jepang, tapi sekarang sudah bisa mengerti sedikit.

Niat belajar bahasa Jepang sebenarnya bukan karena saya ingin mengejar target tertentu seperti bekerja di perusahaan Jepang atau persiapan beasiswa ke Jepang atau target lainnya yang dikejar karena alasan spesifik tertentu, namun niat itu datang karena saya ingin mengetahui bahasa lain selain bahasa yang sudah saya ketahui saat ini (Indonesia dan Inggris). Meskipun saya berencana mencoba beasiswa Monbukagakusho Jepang, namun tidak ada kaitannya dengan les bahasa Jepang yang saya ikuti ini. Les ini saya ambil murni karena saya hanya ingin mengetahui bahasa Jepang. Paling tidak saya bisa mengerti apa percakapan yang sedang dibicarakan ketika sedang menonton dorama Jepang :D. O iya, selain bahasa Jepang, saya juga tertarik belajar bahasa Mandarin dan bahasa Jerman. Namun, les bahasa Jerman sangat mahal, sedangkan bahasa Mandarin sangat sulit dicari tempat belajarnya di Bandung.

Ngomong-ngomong soal bahasa Jepang, saya menganggap bahasa yang satu ini sangat unik, berbeda dengan bahasa Inggris, namun masih memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sangat fleksibel dan irit dalam pemakaian kata, mungkin lebih disebabkan karena penggunaan kata-kata baru yang lebih intensif digunakan oleh kalangan muda. Bahasa Jepang juga demikian, sangat irit dalam pemakaian kata dan cenderung tidak baku (bukan berarti tidak formal). Contohnya: Makan ga?; Mau makan ga? (Indonesia); Do you want to eat? (Inggris); Tabemasenka? (たべませんか) (Jepang). Dalam buku-buku pelajaran, bahasa Inggris cenderung baku dengan membuat kalimat yang lengkap untuk sebuah kalimat baku. Bahasa Jepang mirip dengan bahasa Indonesia, dengan kalimat yang memiliki arti yang sama (tabemasen artinya makan, sedangkan partikel ka dalam konteks ini untuk menanyakan iya atau tidak).

Sebagai pelengkap, saya akan memperkenalkan diri sesuai dengan hapalan saya untuk ujian percapakan kemarin. Kalau tulisan Jepangnya ga keliatan, berarti komputer kamu belum diinstall font Jepangnya :p.

はじめまして。
わたしのなまえはDuken Margaです。
わたしはTaman Sariすんでいます。
わたしのたんじょうびは3月16日。
わたしはエンジニアです。
わたしは月よう日まで金よう日はたらきます。
まいあさごせん9じからごご4じまでだいがくのじっけんしつへいきました。
よろしくおねがいします。