Category Archives: Tulis Ulang

Beberapa Engineer Struktur yang Baik

Cerita di bawah ini adalah terjemahan dari A Few Good Engineers yang merupakan adaptasi percakapan sebuah film berjudul A Few Good Man yang dibintangi oleh Tom Cruise.

Dalam percakapan yang sudah diadaptasi ini, seorang engineer struktur (Eng) berbincang-bincang dengan seorang arsitek (Ar). Percakapan ini tidak bermaksud untuk menyingung pihak manapun, hanya guyonan fiksi yang dibuat untuk hiburan semata 😀

Eng: Kamu menginginkan jawaban?

Ar: Saya rasa saya berhak mendengarkannya.

Eng: Kamu menginginkan jawabannya?!

Ar: Saya menginginkan kebenaran!

Eng: Kamu tidak siap mendengarkan kebenarannya.
Lihatlah, kami tinggal di dunia yang memiliki hal yang kami sebut BALOK, GIRDER, dan KOLOM. Semua itu digunakan untuk MENOPANG BANGUNAN. Siapa yang akan MERANCANG SEMUA ITU? Kamu?
Kamu Tuan Arsitek?

Saya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada yang bisa kamu bayangkan. Kamu mengeluh ketika JARAK ANTAR LANTAI YANG TERLALU KECIL dan menggerutu pada UKURAN GIRDERKU YANG BESAR.

Kamu punya kemewahan itu, kamu punya kemewahan untuk tidak perlu tau apa yang aku tau: GIRDER-GIRDER ITU, ketika terjadi musibah, mungkin akan menyelamatkan banyak jiwa. Kehadiranku yang kacau dan tidak bisa dimengerti olehmu, menyelematkan jiwa-jiwa itu.

Kamu tidak ingin jawaban. Karena pada kenyataannya, di tempat-tempat yang kamu tidak ingin membicarakannya di pesta, kamu MENGINGINKANKU untuk berada dalam TIM DESAIN. Kamu MEMBUTUHKANKU untuk berada dalam TIM DESAIN.

Kami menggunakan istilah DESAIN, CODE, ANALYSIS… kami menggunakannya sebagai landasan kami untuk MENGHASILKAN KEAMANAN DAN KENYAMANAN STRUKTUR.

Kamu menggunakannya sebagai lelucon. Saya tidak punya waktu ataupun tertarik untuk menjelaskan DESAINku pada orang yang bangun dan tidur di dalam selimut pada bangunan yang saya buat AMAN, lalu mempertanyakan kenapa aku seperti itu.

Saya lebih suka kamu datang mengucapkan terimakasih lalu pergi kembali mengerjakan tugasmu.

Kalau tidak, saya menyarankanmu untuk mengambil dan membaca MANUAL BAJA dan mulailah MENDESAIN RANGKA BAJA.

Apapun yang terjadi, saya tidak akan mengutuk apa yang berhak kamu dapatkan.

Ar: Apakah kamu MEMBESARKAN UKURAN GIRDER DAN KOLOM?

Eng: (Terdiam) Saya melakukan pekerjaan yang kamu INGIN aku kerjakan.

Ar: (Membentak) Apakah kamu MEMBESARKAN UKURAN GIRDER DAN KOLOM?

Eng: Ya, kamu benar! Aku membesarkan ukurannya.

–SELESAI–

Terlepas dari cerita di atas, sebenarnya khusus untuk wilayah-wilayah di Indonesia yang rawan gempa, struktur yang dibangun di wilayah gempa umumnya memiliki ukuran struktur yang sudah diperkecil agar biaya struktur tidak menjadi mahal (tahan gempa). Seandainya saja struktur dibuat anti gempa/anti-earthquake (berbeda dengan tahan gempa/earthquake resistant), ukuran struktur mungkin jauh lebih besar daripada yang diharapkan.

Jangan Berusaha Mencari Pasangan Dahulu Sebelum Anda

sumber: http://hikmat-tuhan.com/?menu=inspirasi&task=preview&id=45

Jangan berusaha mencari pasangan dahulu sebelum Anda berhasil mengendalikan rasa kesepian Anda. Sebab jika tidak demikian, Anda akan cenderung menuntut pasangan Anda untuk terus mengisi kesepian Anda.

Jangan berusaha mencari pasangan dahulu sebelum Anda berhasil menguasai diri Anda. Sebab jika tidak demikian, Anda akan cenderung berusaha menguasai pasangan Anda sepenuhnya.

Jangan berusaha mencari pasangan dahulu sebelum Anda berhasil mengikis keegoisan Anda. Sebab jika tidak demikian, Anda akan cenderung menuntut pasangan Anda untuk memenuhi keinginan Anda sepenuhnya.

Jangan berusaha mencari pasangan dahulu sebelum Anda berhasil menjaga kekudusan pribadi Anda sendiri. Sebab jika tidak demikian, Anda akan cenderung tidak dapat mendukung pasangan Anda untuk menjaga kekudusannya.

Jangan berusaha mencari pasangan dahulu sebelum Anda menemukan dan berjalan dalam tujuan hidup Anda. Sebab jika tidak demikian, Anda dan pasangan Anda akan cenderung berjalan tanpa arah yang jelas.

 

Menurut saya ini tulisan yang bagus tentang mencari pasangan hidup 😆

Chmod Recursive pada File dan Direktori

Sumber: http://movabletripe.com/archive/recursively-chmod-directories-only/

Kadang kala, kita hanya ingin menjalankan perintah chmod pada direktori saja atau file saja. Pekerjaan seperti ini bisa dilakukan dengan menggunakan bantuan perintah find.
Untuk mengubah chmod direktori saja, gunakan perintah di bawah ini.

find . -type d -exec chmod 755 {} \;

Untuk mengubah chmod file saja, gunakan perintah seperti di bawah ini.

find . -type f -exec chmod 644 {} \;

Kamu bisa saja mengganti perintah di atas dengan perintah yang lain sesuai dengan kebutuhan kerja.

Karya-karya Menarik dari Sepotong Kertas

diterjemahkan dari http://dornob.com/12-complex-3d-sculptures-cut-from-single-sheets-of-paper/

Sekitar 187 juta pon kertas diproduksi di planet kita setiap tahun. Berapa banyak yang menghasilkan karya kreatif? Seni origami klasik modern merupakan karya tiga dimensi yang seakan-akan hidup kembali dalam berbagai bentuk animasi, adegan, dan tokoh yang dibentuk dari kertas putih biasa.

Kertas ini pada awalnya kosong. Lalu Peter Callesen mengubahnya menjadi karya-karya kreatif ini.

Seni mengolah kertas pernah menjadi sebuah kerajinan yang artistik, namun saat ini produksi pengolahan kertas menjadi sesuatu yang menarik telah menjadi standarisasi dan dikenal di seluruh dunia.

Misteri Batu di Death Valley

diterjemahkan dari : http://planetoddity.com/the-mysterious-sailing-stones-of-death-valley/

Salah satu misteri yang belum terpecahkan oleh para ilmuwan hingga saat ini adalah misteri bergesernya batu-batu di Death Valley. Lembah ini diisi oleh lumpur kering yang lembek dan retak pada musim panas dan es pada musim dingin. Banyak ahli geologi pergi ke berbagai tempat di Racetrack Playa dan sekitarnya untuk melihat fenomena ini.

Batu-batu tersebut bergerak dengan sangat lembut di tanah. Ahli geologi berpendapat bahwa batu-batu ini berpindah ketika tanah dalam keadaan lembek. Namun asumsi ini belum tentu benar karena kondisi cuaca di tempat ini benar-benar sangat panas sepanjang tahun. Kondisi yang paling ekstrim adalah ketika batu-batu ini berpindah dengan sudut yang tajam. Batu-batu ini juga bergerak dengan arah paralel antara batu yang satu dengan batu yang lainnya sehingga asumsi bahwa batu ini digerakkan oleh angin semakin kecil.

Di Swiss Pun Ada Pengemis….

swiss

Laporan wartawan KOMPAS Anastasia Joice

JENEWA, KOMPAS.com — Tangan-tangan dekil yang diacungkan ke jendela mobil di lampu lalu lintas Jakarta memohon sekeping recehan adalah pemandangan biasa. Tetapi, hal itu menjadi agak tidak biasa jika terjadi di lampu lalu lintas Jenewa ketika seorang pemuda kulit putih mengacungkan tangannya meminta-minta.

Salah satu konsekuensi pembukaan perbatasan oleh Swiss belakangan ini adalah membanjirnya imigran legal ataupun ilegal dari negara miskin di Eropa Timur, bahkan negara Asia termasuk Filipina.

Upah minimum Swiss yang sekitar 4.000-5.000 franc Swiss atau kira-kira setara dengan Rp 40-Rp 50 juta per bulan bagi penjaga toko atau koki di rumah makan kecil menjadi daya tarik utama imigran ke Swiss.

Tetap saja, masih ada orang-orang yang tidak memenuhi kualifikasi melakukan pekerjaan yang memerlukan keahlian paling rendah sehingga harus meminta-minta di jalan.

Selain meminta-minta profesi lain yang semakin banyak terlihat di Jenewa adalah pedagang asongan bunga mawar. Kebanyakan profesi ini dilakukan oleh imigran dari Benua Afrika. Mereka keluar masuk restoran menawarkan bunga mawar.

Selain itu, pekerjaan diserbu imigran dari Eropa Timur adalah menjadi pekerja seks komersial. PSK di Jenewa merupakan profesi resmi. Mereka tidak dikejar-kejar karena membayar pajak dan dilokalisasi di kawasan lampu merah.

Profesi kerah biru lain yang cukup dibayar mahal adalah sopir bis umum. Bis umum di Jenewa adalah bis gandeng ber-AC yang lumayan panjang hampir dua kali panjang bis PPD. Sementara jalan-jalan di Jenewa sempit dan penuh tikungan. Keahlian membawa bus panjang di jalan sempit tanpa membahayakan penumpang dan orang lain dihargai lebih tinggi karena dihitung sebagai keahlian khusus.

Jangan ditanya berapa gaji para eksekutif perbankan atau pekerjaan kerah putih lainnya. Pekerja kerah putih di Swiss memerlukan waktu bekerja kurang dari dua jam untuk dapat membeli iPod 8 giga, dibandingkan pekerja di Sri Lanka yang harus memeras keringat lebih dari 15 jam untuk mendapatkan barang serupa.

Dari pendapatan tersebut, sekitar 1.000 franc Swiss per bulan harus rela dipotong untuk membayar asuransi kesehatan untuk 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak. Potongan tersebut secara otomatis dilakukan dari rekening penerima gaji.

Pemerintah Swiss mewajibkan semua orang membayar asuransi kesehatan untuk melindungi mereka ketika sakit. Sebagai gambaran, biaya rumah sakit untuk menginap dua malam karena sakit perut dan melakukan pemeriksaan ultrasonografi, tanpa ada tindakan pembedahan, diperlukan biaya 25.000 franc Swiss atau sekitar Rp 250 juta. Bayangkan jika si pasien tidak memiliki asuransi kesehatan.

Untuk urusan sekolah, pemerintah menyediakan sekolah gratis. Tidak hanya uang sekolah, tetapi juga meliputi pemberian buku dan tas secara cuma-cuma. Kendaraan juga cukup terjangkau, jika pekerja kerah biru menabung seluruh gajinya selama tiga-empat bulan saja, sebuah mobil sudah dapat dilunasi, tidak perlu mencicil hingga lima tahun. Soal pajak, jika dibandingkan dengan negara Eropa lainnya seperti Jerman, pungutan pajak di Swiss lebih rendah.

Di sisi lain, biaya hidup lain seperti makan, tempat tinggal, pakaian, dan hiburan sangat mencekik leher. Selembar baju anak-anak yang terbuat dari wool dibanderol dengan harga 200 franc Swiss atau sekitar Rp 2 juta. Belum lagi sepatu kulit laki-laki yang minimal berharga 300 franc Swiss atau Rp 3 juta. Mau makan nasi goreng dengan lauk ayam, sayur dan dimsum di restoran China, Anda harus merogoh kocek setidaknya 50 chf atau Rp 500.000 sekali makan.

Bagaimana, tertarik mengadu nasib ke Swiss?

sumber: http://travel.kompas.com/read/xml/2009/12/03/13541874/di.swiss.pun.ada.pengemis….

Menelusuri Jejak Karya Schoemaker; sang Arsitek Bandung

sumber : http://www.itb.ac.id/news/2586.xhtml

BANDUNG, itb.ac.id- Selama puluhan tahun, C.P. Wolff Schoemaker telah meraih nama besar dalam pembangunan kota Bandung. Arsitek Belanda dan guru besar arsitektur ITB ini memiliki peran besar dalam perancangan masterplan kota Bandung kuno. Sejumlah bangunan tercatat sebagai karyanya, diantaranya Villa Isola, Gedung Merdeka dan Villa Merah ITB. Napak tilas karya-karya Schoemaker di Bandung disajikan oleh Kumiko HOMMA,mahasiswi program magister Arsitektur dari Jepang, bekerjasama dengan sejumlah mahasiswa arsitektur ITB dalam seminar Jejak Karya C.P. Wolff Schoemaker di Bandung.

 

 Mungkin hanya sedikit orang awam yang mengenal nama Ir.Charles Prosper Wolff Schoemaker. Pria kelahiran Banyubiru, 1882 ini memulai karir di militer sebagai insinyur. Schoemaker kemudian bergabung dengan Algemeen Ingenieur Architectenbureau, dan bekerja di Bandung. Karyanya antara lain bangunan-bangunan yang menjadi ikon kota Bandung, seperti Gedung Asia Afrika, Villa Isola, Aula Barat – Timur ITB, Gedung PLN, Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Villa Merah, dan Hotel Preanger. Tahun 1922, Schoemaker diangkat sebagai profesor Technische Hogeschool Bandoeng (ITB) dengan salah satu mahasiswanya yaitu Ir. Soekarno. Selama hidupnya, beliau banyak melakukan penelitian ilmiah terhadap karya-karya arsitektur vernakular di Jawa. Beliau juga pernah menimba ilmu arsitektur di Amerika Serikat dari Frank Lyoid Wright, salah satu arsitek ternama di dunia. Schoemaker meninggal pada 1949 dan dimakamkan di Ereveld Pandu, Bandung.

Dalam rancangannya, Schoemaker berupaya memadukan unsur budaya timur dan barat dalam desainnya. Budaya timur sangat terlihat dari bentuk atap yang dominan seperti rumah-rumah tradisional Indonesia dengan kemiringan yang tinggi, serta material pada atap (sirap) dan dinding (batu bata), pada bangunan villa mrah di Jl. Tamansari. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai kantor Satuan Kekayaan dan Dana serta Ikatan Alumni ITB.

Villa Isola dirancang Schoemaker memiliki orientasi pada Gunung Tangkuban Perahu. Schoemaker menerapkan filsafat landscape tradisional Jawa, yaitu bangunan dan lingkungan memiliki orientasi kosmis ke arah sesuatu yang dianggap sakral. Gunung tersebut merupakan elemen sakral dalam kepercayaan masyarakat Sunda. Elemen-elemen kepercayaan seperti inilah yang coba diadaptasi Schoemaker ke dalam desainnya. Konsep tradisional lain yaitu ornamen Batara Kala pada fasade bangunan Landmark di Jalan Braga. Sementara deretan pertokoan bergaya art deco yang menjadi landmark jalan Braga merupakan daya tarik bagi Parijs van Java.

Kumiko HOMMA, mahasiswi program magister berkebangsaan Jepang, menampilkan hasil penelitiannya mengenai karya-karya Schoemaker. Penelitian tersebut turut dibantu oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi, ST.MT., dosen sejarah arsitektur program studi arsitektur ITB. Dalam seminar yang diselenggarakan di galeri Labtek IXB, Jumat (11/09/09), Kumiko menampilkan hasil analisisnya pada berbagai karya Schoemaker di Bandung. Schoemaker memiliki karakteristik art deco, streamline, inconsistent, dan concoct.

Selain pembahasan karya Schoemaker, dibahas pula mengenai pembentukan arsitektur satu arah (lisensia arsitektura) yang disampaikan oleh Yuswadi Saliya, pendiri Ikatan Arsitektur Indonesia. Yuswandi mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi latar belakang, diantaranya interaksi antara arsitektur dengan habitat dan komunitasnya. Yuswandi juga mengatakan bahwa bidang preservasi karya arsitektural saat ini menghadapi kamar mati. Maksudnya, setiap elemen arsitektur hanya dilihat seperti apa yang terlihat. Padahal, elemen-elemen tersebut sebenarnya memiliki banyak potensi. Bangunan tua hanya dilihat seperti bangunan yang telah tua dan perlu diperbaiki; padahal bangunan tersebut memiliki potensi dimanfaatkan untuk berbagai fungsi dan pariwisata. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Bandung yang kaya dengan bangunan-bangunan arsitektur kolonial tidak terkenal karena bangunannya; tetapi justru karena FO dan pusat perbelanjaan yang menjamur.

Seminar dan diskusi ini membuat para pesertanya lebih mengenal siapa sosok Schoemaker dan karya-karyanya yang menghiasi Bandung. Diharapkan kedepannya, karya-karya Schoemaker dapat terus terjaga; tidak hanya menjadi bagian dari nostalgia kota Bandung atau objek pembelajaran arsitektur, namun juga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.