Install Printer Canon Pixma MP237 openSuse 13.1 64 bit

August 26, 2014 by · Leave a Comment 

Hore, untuk pertama kalinya, saya berhasil menginstall driver untuk printer Canon Pixma MP237 pada sistem operasi Linux distro openSuse 13.1 dengan arsitektur 64 bit. Sebenarnya tutorial ini bisa dijadikan untuk semua printer Canon tipe 230-series, karena drivernya memang ditujukan untuk semua seri 230. Pada awalnya saya agak pesimis bahwa printer ini bisa dipasang di linux, tapi dengan mengikuti berbagai tutorial di internet, akhirnya bisa juga. Printer tipe MP237 dilengkapi dengan fungsi mencetak dokumen ke kertas dan memiliki fungsi scanning. Gak tau kenapa, dulu printer ini yang dibeli oleh keluarga di rumah untuk keperluan cetak-mencetak dan scanning dokumen.

Oke, berikut langkah-langkah instalasinya:

  • Download software libtiff-3 (64 bit) jika kamu menggunakan openSuse 13.1 atau 12.x. Lalu instal software ini, bisa menggunakan terminal atau klik 2 kali untuk memulai proses instalasi menggunakan Software Manager Yast. Software ini wajib diinstal agar fungsi mencetak dokumen berfungsi dengan baik.
  • Download driver printer dan driver scanner di website resmi Canon. Driver ini sudah mendukung openSuse 32 bit dan 64 bit. Ekstrak masing-masing arsip dan jalankan install.sh melalui terminal
  • Tunggu proses instalasi berlangsung, jangan lupa menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan pada layar terminal
  • Jika sudah selesai, buka Print Setting melalui menu pencarian aplikasi bagian System Tools -> Print Settings (saya tinggal mengetikkan kata ‘Print’ menggunakan desktop Gnome 3)
  • Lalu akan muncul sebuah gambar printer di window yang terbuka. Klik 2 kali printer tersebut lalu coba mencetak dokumen (Print Test Page)
  • Tadaa, printer akan mulai bergerak untuk mencetak dokumen

Semoga tutorial singkat ini berguna buat kamu semua  🙂

Menggati Nama pada Sertifikat Secara Massal Menggunakan Script Bash

September 9, 2013 by · Leave a Comment 

Satu bulan yang lalu saya berkesempatan menjadi panitia konferensi Teknik Sipil se-Asia, CECAR 6, yang diadakan di Jakarta. Salah satu tugas panitia adalah membuat sertifikat untuk para peserta yang mengikuti konferensi. Template sertifikat (tanpa nama) sudah dibuat dan dicetak jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga tugas yang harus diselesaikan adalah mencetak nama pada sertifikat yang sudah ada tersebut.

Intinya, template nama (format Corel Draw .CDR) di-print di atas sertifikat tanpa nama tadi. Karena jumlah peserta sangat banyak (sekitar 600 orang), tugas memindahkan nama dari file spreadsheet ke Corel Draw lalu dicetak, akan membutuhkan banyak waktu. Jauh sebelum hari H, saya sudah mendapatkan ide bagaimana caranya agar bisa menghasilkan semua file sertifikat yang tinggal dicetak saja (format PDF). Jadi tugas memindahkan nama dari file spreadsheet ke dalam format gambar, lalu diubah ke dalam bentuk PDF, semuanya dilakukan secara otomatis. Sekitar 100 file bisa dihasilkan dalam waktu kurang dari 1 menit.

Karena file CDR adalah file binary, saya harus mengubah format gambar menjadi bentuk SVG. Format SVG adalah format gambar yang berbasis XML, sehingga isinya lebih fleksibel dan bisa diubah sesuai dengan kebutuhan. Mengubah file SVG dari CDR bisa menggunakan UniConverter. Namun saya lebih memilih membuat sendiri dari awal menggunakan Inkscape karena konten sertifikat nama nya cuma sedikit dan saya bisa mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Akurasi data harus diperhatikan seperti ukuran kertas, letak tulisan nama, tulisan lain yang penting, font, titik pusat teks, warna, dan lain sebagainya agar diperoleh hasil yang menyerupai hasil Corel Draw. Faktor yang terpenting adalah titik pusat teks agar ketika nama peserta memiliki jumlah karakter yang banyak ataupun sedikit, nama tetap berada di tengah-tengah sertifikat (atau disesuaikan dengan titik acuan pada sertifikat). Untuk mencapai kondisi ini, kotak teks nama terlebih dulu harus disesuaikan memiliki lebar sepanjang kotak area sertifikat. Nama peserta saya isi dengan teks {nama}. Teks {nama} ini nantinya akan diganti dengan nama peserta. Kemudian file disimpan dengan format SVG (Scalable Vector Graphics). Namun, saya mengganti formatnya menjadi *.savg agar nanti tidak terhapus oleh script.

Kemudian saya membuat sebuah file yang berisi nama peserta, satu nama peserta per baris. Setelah itu, saya membuat sebuah file bash yang isinya seperti di bawah ini.

#/bin/sh
# @author: Duken Marga
while read p;do
	ws=`echo $p|sed "s/ /\\ /"`	#space
	ws=`echo $ws|sed "s/\./\\\./"`	# .
	ws=`echo $ws|sed "s/\//\\\//"`	# /
 
	wos=`echo $p|sed "s/ /_/"`	#space
	wos=`echo $wos|sed "s/\///"`	# /
	wos=`echo $wos|sed "s/,//"`	# comma
 
	sed "s/{nama}/$ws/" master.savg > $wos.svg # mengganti {nama} menjadi nama peserta
	inkscape -A "$wos.pdf" "$wos.svg"
done < daftar_nama
rm *.svg

File master.savg adalah gambar sertifikat yang berisi teks {nama}. File daftar_nama adalah file berisi daftar nama peserta. Simpan file di atas dengan nama script.sh atau nama lainnya. Ketiga file di atas harus diletakkan dalam 1 direktori yang sama. Jangan lupa untuk menginstall Inkscape untuk merubah file SVG menjadi PDF. Jalankan script di atas untuk menghasilkan file yang siap untuk diprint.

Tutorial ini hanya memberikan gambaran umum bagaimana membuat file sertifikat secara massal. Namun, saya yakin script di atas perlu diubah agar sesuai dengan kebutuhan.

Menampilkan Referensi dari Bibtex External pada Latex

September 5, 2013 by · Leave a Comment 

Beberapa bulan ini saya menggunakan Latex untuk membuat sebuah dokumentasi. Ternyata pemakaiannya susah-susah-gampang. Banyak yang harus dipelajari sebelum bisa menggunakan Latex dengan lancar. Learning curve nya sangat berbeda jika dibandingkan dengan menggunakan software word processing berbasis WYSIWYG (What You See Is What You Get) seperti Microsoft Word atau Libreoffice Writer.

Salah satu fitur Latex adalah dukungan terhadap format referensi Bibtex, yaitu manajemen sumber referensi pada dokumen yang hendak dibuat. Dengan Bibtex, pengguna dengan mudah melakukan pengutipan (cite) terhadap sebuah artikel, buku, jurnal, atau sumber referensi lainnya. Kelebihan Bibtex lainnya adalah file Bibtex bisa dipisah dengan dokumen utama, sehingga file Bibtex ini bisa dipakai untuk dokumen lainnya. Pada dokumen utama, referensi akan ditandai dengan nomor atau nama depan pengarang, tergantung pengaturan yang kita buat.

Ketika saya ingin mengutip sebuah sumber, masalah yang muncul adalah dokumen Latex tidak menampilkan referensi melainkan tanda tanya. Ini artinya dokumen latex belum mengenali sumber referensi pada file Bibtex. Setelah saya selidiki dengan membuka beberapa sumber, saya menemukan sebuah artikel yang menginformasikan bahwa dibutuhkan trik untuk menampilkan nomor referensi pada dokumen.

Urutan yang harus dilakukan agar referensi ditampilkan pada dokumen latex diberikan dalam langkah-langkah berikut:

  1. latex latex_source_code.tex
  2. bibtex latex_source_code.aux
  3. latex latex_source_code.tex
  4. latex latex_source_code.tex

Langkah pertama akan menghasilkan error seperti di bawah ini:

LaTeX Warning: Citation `lamport94' on page 1 undefined on input line 21.
...
LaTeX Warning: There were undefined references.

Langkah kedua digunakan untuk mendefinisikan semua referensi yang dipakai dalam dokumen tersebut.

This is BibTeX, Version 0.99c (Web2C 7.3.1)
The top-level auxiliary file: latex_source_code.aux
The style file: plain.bst
Database file #1: sample.bib

Langkah ketiga adalah menjalankan Latex untuk kedua kalinya. Error yang muncul adalah “LaTeX Warning: Label(s) may have changed. Rerun to get cross-references right“. Perintah ini dengan jelas menyuruh kita untuk menjalankan latex sekali lagi (langkah ke-4) untuk menampilkan referensi pada dokumen kerja. Jadi kita tidak perlu berurusan dengan file Bibtex itu sendiri (format *.bib).

Untuk informasi tentang manajemen bibliografi, bisa merujuk ke sumber ini: http://en.wikibooks.org/wiki/LaTeX/Bibliography_Management

Install Modem Smart pada Linux Mint 14

April 2, 2013 by · Leave a Comment 

Tutorial singkat di bawah ini adalah cara mendaftarkan modem Smart agar bisa dipakai di Linux Mint 14. Tutorial ini tidak menggunakan wvdial berhubung Linux Mint 14 sudah bisa mendeteksi jenis modem yang saya pakai (Smart ZTE) dan koneksi internet bisa digunakan langsung melalui taskbar (icon network connection).

root# lsusb
Bus 001 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 002 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 003 Device 002: ID 19d2:fff1 ZTE WCDMA Technologies MSM 
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 003 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 004 Device 001: ID 1d6b:0003 Linux Foundation 3.0 root hub
Bus 001 Device 004: ID 058f:a014 Alcor Micro Corp. Asus Integrated Webcam
Bus 002 Device 003: ID 046d:c05a Logitech, Inc. Optical Mouse M90
Bus 002 Device 004: ID 05e3:0727 Genesys Logic, Inc. microSD Reader/Writer

Perhatikan bahwa modem pada output di atas diberikan dengan kode 19d2:fff1. Pada output di terminal kamu mungkin akan memberikan hasil yang berbeda. Langkah selanjutnya adalah mendaftarkan modul modem ini ke dalam kernel agar bisa dikenali dan dipakai sebagai modem. Jangan lupa untuk nilai pada bagian vendor dan product diganti nilainya dengan apa yang tampil pada hasil di atas.

root# modprobe usbserial vendor=0x19d2 product=0xfff1

Setelah melakukan perintah di atas, modem bisa digunakan untuk koneksi ke internet.

Next Page »