Tag Archives: Ceritaku

Makanan Terenak

Kalau kamu dan saya ditanya apa makanan terenak di dunia? Tentu saja masakan Ibu ūüôā

Saya sendiri bukanlah orang yang kalo makan milih-milih. Kalau ada makanan apa saja, pasti saya makan. Namun karena alasan kesehatan, saat ini saya lebih memilih makanan yang menyehatkan juga. Contohnya mengurangi makanan yang berkolesterol tinggi dan mengurangi makanan yang berlemak.

Tren makan saya sekarang adalah buah, nasi, sayuran lebih, dan ikan. Saya memilih ikan karena memang sudah terbiasa makan ikan sejak kecil dibandingkan ayam atau daging lainnya. Syukurlah semenjak kembali ke Jakarta, berat badan bisa turun 5 kilo dalam beberapa bulan. Suasana hati yang lebih banyak cerianya tentu saja membuat ngemil berkurang, walaupun akhir-akhir ini kecenderungan ngemil porsinya sudah meningkat.

Bagaimana makanan yang ideal menurut saya? Makanan yang tidak terlalu ekstrim, entah itu terlalu asin, asam, terlalu pedas, apalagi terlalu dingin (produk es misalnya). Sekali-sekali bolehlah, tapi kalau sering-sering biasanya perut sudah gak kuat. Kalo ditanya soal rasa, saya sih lebih prefer rasa yang natural, tidak diberi penguat rasa seperti MSG juga tidak masalah. Malah saya lebih menyukai masakan yang tanpa MSG, bisa langsung tau rasa asli yang kita makan itu seperti apa.

Sewaktu saya bertugas di site, kami biasanya memasak sendiri kalau mau makan malam atau di hari Minggu. Ketika acara masak-memasak, saya menyadari kebiasaan saya yang suka mencicipi mentahan makanan. Sayur, tempe, bawang, bumbu penyedap, yang masih dalam bentuk mentah dalam potongan-potongan kecil akan saya cicipi sebelum dimasukkan ke dalam belanga. Entah kenapa ada kepuasan kecil ketika tau “Ah, begini rasanya ketika masih belum dimasak”.

Ibuku di rumah tidak pernah menambah bumbu penguat MSG selain dari kecap, garam, bawang, ketumbar, jahe, lengkuas, dan bumbu alami lainnya (yang dulu membuat Indonesia dijajah 350 tahun). Tapi ibuku memang jago memasak, turunan dari nenekku sendiri. Kalo ditanya soal rasa, pasti aku akan jawab “Masakan ibuku paling enak sedunia”. Ada benarnya juga, tanpa penguat rasa sudah menghasilkan rasa yang pas, bukankah itu yang namanya jago memasak?

Saya sendiri bukanlah penyuka makanan cepat saji (fast food). Minuman berkarbonasi seperti Pepsi, Cola, atau daging ayam KFC bukan favorit saya, kebetulan saja karena memang saya tidak terlalu doyan ayam. Kalau ada teman yang ngajak makan fast food, saya tidak akan menolak, toh mungkin kesempatan ke sana mungkin hanya sekali dalam setahun. Tentu saja saya tidak akan merasa rindu kalau tidak ke sana dalam beberapa tahun ūüėõ

Jadi kalau ditanya apa makanan terenak di dunia? Jawabannya tentu saja masakan ibu. Tapi kalau hendak digeneralisir, mungkin makanan yang menyehatkan adalah makanan terenak di dunia.

Baterai Smarthphone Sehari Cuma Habis 20%

Saya punya smartphone Samsung Galaxy Grand, kapasitas baterai 2000 mAh. Dulu, sekali isi hingga penuh bisa bertahan seharian dari pagi sampe malam. Artinya tiap hari baterainya harus selalu diisi terus.

Beberapa hari ini saya mengamati bahwa ternyata baterai hape saya cuma habis 20% dari pagi sampe malam. Tentunya ada beberapa perubahan yang saya lakukan sehingga bisa menghemat cukup banyak energi. Apa saja perubahannya?

  1. Uninstall Facebook Mobile. Sadar atau tidak sadar, aplikasi mobile Facebook cukup menguras baterai. Dengan koneksi internet yang selalu aktif, aplikasi ini tentu tidak akan bosan-bosannya berinteraksi dengan server secara realtime. Penggunaan memory yang besar dan penggunan koneksi internet yang aktif tentu saja mempercepat habisnya baterai. Sekarang ini, kalau mau Facebook-an, saya lebih sering lewat laptop waktu malam hari. Toh sewaktu di kantor, mana sempat buka Facebook.
  2. Turunkan koneksi dari 3G menjadi 2G. Untuk keperluan chatting dan email, saya rasa koneksi 2G sudah cukup. Mengganti jenis koneksi menjadi 2G akan sangat berpengaruh pada baterai kamu. Mungkin ini faktor yang paling berpengaruh kenapa baterai cepat habis.
  3. Nonaktifkan fitur sinkronisasi Google yang tidak penting. Jika kamu membuka menu Pengaturan (Settings), kemudin masuk ke akun Google, kamu akan melihat banyak fitur sinkronisasi. Saya sendiri hanya mengaktifkan fitur sinkronisasi pada kalender dan Gmail saja,  selebihnya saya nonaktifkan karena memang tidak pernah (atau jarang) saya gunakan.
  4. Kalau kamu aktif mengunakan Google+, non-aktifkan fitur Auto Backup. Fitur ini bisa dilihat pada pengaturan (Settings). Jika fitur ini aktif, maka data-data pada smartphone kamu (gambar, video, dll) akan disimpan (backup) pada server Google+. Semakin aktif koneksi internet, maka semakin cepat pula baterai smartphone-mu berkurang.
  5. Dual SIM menjadi Single SIM. Kebetulan karena smartphone saya bisa dual SIM, saya cukup sering mengaktifkan 2 kartu sekaligus. Tapi karena satu kartu sudah tidak dipakai lagi, akhirnya saya cuma punya 1 kartu saja. Alhasil, baterai pun bisa dihemat.

Kalau kamu memiliki banyak aplikasi yang rakus memory RAM dan sering terhubung ke internet, sebaiknya aplikasi tersebut kamu buang saja, apalagi jika kamu jarang menggunakannya. Selain mengganggu waktu bekerja dan belajar, kamu juga jadi tidak produktif.

Nah, itu tadi sedikit tips untuk bisa menghemat baterai smartphone. Kamu siap ga untuk uninstall Facebook Mobile?

Tabunganmu Apa?

Hari Jumat kemaren, ketika berada di angkutan umum sepulang dari kantor, saya berbincang-bincang dengan seorang ibu. Ibu itu menawarkan asuransi kesehatan yang cukup terkenal di Indonesia. Kelihatannya ibu tersebut adalah seorang agen. Ibu itu bertanya apakah saya pernah mendengar bahwa jika asuransi kesehatan mereka menawarkan proteksi kesehatan sekaligus tabungan keuangan yang jika dalam 10 tahun jumlahnya bisa berkali lipat. Dengan antusias saya menjawab bahwa saya pernah mendengar dengan lebih lengkap penjelasan asuransi tersebut. Kebetulan teman kuliah dulu ada yang bekerja sebagai agen juga, sehingga pernah mendapat penjelasan yang super lengkap.

Namun saya menolak untuk mengikuti karena memang beban tanggungan saya saat ini tidak mencukupi bila ikut serta dengan asuransi tersebut, walapun tidak menutup kemungkinan saya akan mengikutinya suatu hari nanti. Kamipun lama mengobrol tentang kehidupan masing-masing dan ibu itu lebih banyak menyampaikan petuah untuk menabung sejak dini.

Berbicara tentang tabungan, setelah memasuki dunia kerja, tabungan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Tidak seperti masa-masa bersekolah yang menabung untuk membeli sesuatu atau hal lainnya, menabung di usia dewasa memiliki arti lain. Menabung di sini bisa diartikan sebagai modal dan investasi, baik itu biaya menikah, membeli rumah, menjalankan bisnis, biaya berkeluarga atau keperluan lainnya.

Dalam berbagai kesempatan berbincang-bincang dengan beberapa teman, saya cukup mendapat pencerahan dengan berbagai jenis tabungan yang bisa dipakai. Ada teman yang cukup menabung di bank, ada juga teman yang menabung di reksadana atau bermain di jual beli saham, ada yang merasa cukup menabung dalam bentuk emas, ada juga yang berusaha bermain di bidang properti (rumah). Tidak sedikit juga yang menyimpan uangnya dalam bentuk asuransi/proteksi kesehatan, seperti yang sudah saya singgung di atas.

Berbagai tabungan itu bukan tanpa kekurangan, semua ada plus dan minus nya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kebutuhan kita, kondisi keuangan, waktu, resiko masing-masing metode dan berbagai pertimbangan internal lainnya. Sebagai contoh, saya tidak menabung dalam bentuk uang di bank, karena saya tau inflasi per tahunnya lebih besar daripada bunga bank itu sendiri. Selain itu kondisi ekonomi yang belum stabil tidak cukup untuk membuat nilai tabungan di bank menjadi aman. Emas lebih stabil, tidak terlalu terpengaruh kondisi ekonomi (koreksi saya jika salah) dan rata-rata mengalami kenaikan nilai setiap tahunnya. Bisnis properti memang menjanjikan, namun perlu modal besar. Bermain di saham juga memiliki peluang untung yang besar, namun tentu saja peluang ruginya juga besar.

Jika punya uang yang cukup, bisa saja bentuk tabungannya lebih dari satu. Bentuknya pun tidak terbatas dengan yang saya tuliskan di atas.

Sedikit hitung-hitungan yang pernah saya dengar, bunga di bank berkisar 0-2% per tahun, namun inflasi per tahun sekitar 5-8%. Inflasi pendidikan lebih tinggi lagi, berkisar 10-14%. Inflasi kesehatan mencapai 15-20% per tahun. Hitung-hitungan di atas memang cuma gambaran kasar, tapi tetap bisa memberikan perhatian (aware) pada kita tentang tabungan yang harus kita miliki.

Saya pun yang baru memasuki dunia kerja, meskipun bukan ahli ekonomi, tetap memperhatikan dan belajar tentang tabungan yang cocok bagi saya. Saya sendiri beranggapan bahwa tabungan yang cocok dengan seseorang harus disesuaikan dengan kebutuhan orang itu sendiri.

Asal Usul Logo Ganesha Insitut Teknologi Bandung (ITB)

Pernah nyari tau gak asal usul logo kampus ITB (Ganesha) itu dapat darimana?

1261026605
Logo ITB

Hasil pencarian di internet dengan kata kunci ‘asal usul logo itb’ tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan, bahkan kemungkinan tidak ada artikel yang menjelaskan itu. Saya sendiri sudah pernah membaca di sebuah buku digital kenapa¬†logo Ganesha dipakai sebagai lambang ITB.¬†Kisahnya diceritakan¬†dalam buku digital berjudul¬†Aura Biru ‚Äď Catatan Para Pelaku Sejarah ITB,¬†¬†bagian ke-1 dari 4 buku. Buku ini sudah terbit sejak tahun 2009, tapi hingga tahun 2015, ceritanya belum juga tercatat di Google. Setelah mengecek ulang ketika menulis artikel ini, ternyata buku digital tersebut tidak bisa memilih teks untuk disalin (copy) ke tempat lain. Mungkin inilah penyebabnya¬†Google gagal mengindeks isi dari buku tersebut.

Agar lebih jelas dan lengkap, saya menulis ulang sebagian isi dari buku tersebut yang menceritakan sejarah logo ITB.

Sebagai sebuah Perguruan tinggi yang baru yang akan bernama Institut Teknologi Bandung, tentulah pula memerlukan sebuah lambang yang khas sebagai identitas ITB yang dapat dipakai atau ditampilkan dalam segala bentuk kegiatan ITB. Lambang yang pernah ada yang dipakai sejak 1946 sampai 1950, ketika perguruan tinggi tersebut masih bernama Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng, tentulah tidak terpakai lagi. Demikian pula lambang yang dipakai ketika masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia, dengan bentuk lambang yang menampilkan gambar stilasi dari pohon pisang kipas yang masa itu banyak tumbuh menghias halaman depan kampus UI di Salemba, harus diakhiri penggunaannya. Lambang UI ini pernah dipakai di kampus antara 1950-1959.

Timbullah masalah bagaimana menciptakan lambang yang baru bagi ITB. Menurut cerita yang pernah disampaikan oleh almarhum A. Sadali yang konon mendapat informasi dari alm Prof. S. Soemardja dari Seni Rupa ITB; Beliau mengisahkan pada saya sebagai berikut.

Setelah berminggu-minggu belum juga ditemukan objek atau bentuk yang dapat dikembangkan menjadi dasar lambang. Tercetuslah gagasan untuk mengajak beberapa guru besar saat itu seperti Prof. Ir. Soetedjo, Prof. S. Soemardja, Prof. Soemono, Prof, Ir. R.O. Kokasih dan lain-lain berjalan-jalan sekitar kampus untuk mencari ide. Mereka berkeliling sekitar kampus sambil menatap Gunung Tangkuban Perahu, menyimak keunikan bangunan aula dengan atap dan konstruksinya yang khas, melihat taman yang berada di depan pintu gerbang kampus, sambil mengkaji sejarah awal berdirinya perguruan tinggi di kampus itu.

Mereka tetap saja belum menemukan hal-hal yang spesifik untuk dijadikan awal gagasan. Pada akhirnya rombongan ini sampai ke jam outdoor yang terpasang tidak jauh dari gerbang depan kampus. Ini merupakan satu-satunya jam umum yang masih kita temukan sampai sekarang. Ketika menatap jam tersebut mereka melihat dua buah patung Ganesha kecil yang dipasang di bawah jam tersebut. Tepatnya di sisi kiri dan kanan jalan dan menghadap ke depan. Patung-patung Ganesha tersebut masih lengkap dengan atributnya, yang hasil temuan beberapa tahun sebelumnya dari penggalian di situs-situs candi di Jawa Tengah oleh para arkeolog asing. Selain dari dua patung Ganesha itu masih ada pula beberapa patung penemuan lainnya yang disimpan di Bagian Seni Rupa. Kesemua patung tersebut, konon belum ikut didaftarkan di Museum Gajah di Jakarta.

patung ganesha depan itb

Ketika melihat kedua patung Ganesha yang duduk dengan tenang, tiba-tiba semua bersepakat untuk memulai wawasan mengembangkan lambang ITB dari patung Ganesha tersebut. Tindakan selanjutnya adalah kembali meminta bantuan Bagian Seni Rupa untuk menjelmakan sosok patung 3 dimensi tersebut ke dalam bentuk gambar 2 dimensi yang kelak dapat dipakai sebagai lambang. Lalu Bagian Seni Rupa menugaskan Srihadi S., seorang pelukis muda yang dianggap paling berbakat, untuk membuatkan desainnya yang kemungkinannya dibantu pula oleh beberapa asisten. Setelah berproses lama lahirlah bentuk lambang yang didesain oleh Srihadi, yang kita kenal sampai sekarang sebagai lambang ITB.

Setelah lambang itu dipakai selama kurang lebih 20 tahun oleh ITB, mulailah terlihat pemakaiannya beberapa keserampangan bentuk proporsi gajah yang digambarkan. Ada berbagai bentuk, seperti profil ganesha yang langsing, yang gemuk, yang kurus dan kadang-kadang dengan atributnya yang keliru.

Pada masa kerektoran Prof. Hariadi P. Soepangkat Phd. (1980-1988), tercetus ide keinginan untuk menertibkan penggambaran lambang ITB, yang sekalian dipatenkan (?) Untuk upaya ini, rektor meminta bantuan dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB membentuk sebuah tim kecil untuk menanganinya.

Tugas ini diserahkan pada studio Desain Grafis (sekarang Desain Komunikasi Visual) untuk mengolahnya. Sosok tubuh Ganesha itu distudi lagi, dengan grid-system. Bentuknya disempurnakan, garis dan sudutnya dihitung, disederhanakan, diletakkkan dalam grid untuk menghindarkan dari berbagai kemungkinan penyimpangan bentuk dalam penggunaan seterusnya. Kemudian, pembaruan ini, dilengkapi dengan buku tuntunan untuk cara pemakaian lambang di semua bentuk yang diperlukan. Bentuk gambar Ganesha pun dibuat dalam 2 versi yang berbentuk blok hitam dan gambar Ganesha yang berupa garis saja (outline).

Sejak itu diharapkan akan terjadi penertiban yang mudah diikuti oleh seluruh penggunaan ITB untuk lambang tersebut. Ada juga upaya kemudian untuk membuatkan bentuk Ganesha ke dalam ukiran relief dangkal, dan dalam bentuk patung 3 dimensi. Kesemua ini dalam kaitan agar dapat dipergunakan secara maksimal dan beragam, tapi tertib.

logo itb resmi

Untuk logo itu sendiri, website ITB sudah menyediakan logo ITB dengan lingkaran yang mengelilingi Ganesha dan ada tulisan Insitut Teknologi Bandung. Namun logo Ganesha polos berwarna hitam dan hanya bergaris hitam tidak tersedia di website resmi ITB, namun masih bisa ditemukan lewat pencarian Google.

Proyek Pertama Sebagai Engineer Sipil Akhirnya Selesai

Sabtu, 30 Mei¬†2015 adalah hari terakhir saya bertugas di lapangan untuk proyek Regasifikasi LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh ūüôā

Setelah bertugas kurang lebih setahun tiga bulan, minggu kemaren saya ditelepon untuk dipulangkan ke kantor pusat di Jakarta. Tapi sebelumnya, saya cuti dulu seminggu.

Banyak pengalaman yang baik dan buruk yang saya alami di proyek pertamaku sebagai engineer sipil. Mulai dari permasalahan budaya (kultur), bahasa, sosial, hingga masalah teknis proyek itu sendiri. Banyak makan asam garam sudah membentuk sedikit karakter baru dalam diriku. Meskipun belum sempurna, namun saya bisa katakan saya merasa lebih baik dibandingkan sebelum saya mengikuti proyek ini.

Di dalam proyek terdapat 1001 macam kepribadian orang, mulai dari orang yang penurut, pemarah, keras kepala, pekerja keras, pemalas, pintar bernegoisasi, ada yang suka rapat setiap hari, ada yang tidak mau ikut rapat, ada yang suka lembur, ada yang suka pulang cepat, dan masih banyak sifat orang yang berpadu dalam proyek. Kombinasi kelebihan dan kekurangan sifat-sifat manusia bersatu membentuk karakter orang-orang tersebut. Sampai saat ini, belajar menghadapi berbagai karakter orang adalah salah satu tantangan terbesarku, mungkin hingga beberapa tahun ke depan.

Kalau dulu saya suka membeli buku-buku teknis, namun sejak masuk ke proyek, saya mulai melirik buku-buku yang berhubungan dengan manusia, sifat-sifat manusia, dan bagaimana menjalin komunikasi dengan manusia. Bukan karena saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, namun lebih kepada banyaknya kepentingan tiap-tiap orang dari berbagai disiplin, sehingga agak susah untuk mencocokkan kepentingan kita dan kepentingan pihak lain agar tidak saling merugikan. Kondisi ini tentu berbeda di saat sekolah atau kuliah di mana semua orang cenderung memiliki kepentingan yang sama: belajar, mendapatkan ilmu, dan lulus dengan baik. Kesimpulannya adalah tidak mudah untuk memenangkan hati setiap orang dan butuh pengalaman yang banyak untuk bisa melaluinya menuju sukses.

Hal ini berlaku juga dengan konsep manajemen proyek. Tanpa perencanaan dan ide yang matang, proses engineering dan konstruksi akan terlihat kompleks dan berlangsung lebih lama. Untuk urusan yang satu ini, saya masih jauh dari kata sempurna dan harus belajar banyak dari hari ke hari. Meskipun kadang kala di suatu waktu, saya merasa jenuh dan bosan sehingga lupa bahwa seharusnya saya melaksanakan proses manajemen proyek secara berkelanjutan. Apalagi di akhir-akhir proyek, meskipun memang masih ada satu-dua pekerjaan, tetap saja banyak nganggurnya sehingga kelihatan seperti orang menyedihkan.

Bagaimana dengan desain? Saya belajar banyak tentang desain, terutama tentang struktur beton dan baja, namun masih dalam lingkup struktur sederhana. Ada juga teknologi yang baru saya kenal setelah masuk ke dalam proyek, seperti teknologi angkur, angkur kimia, teknologi campuran beton, atau fabrikasi struktur baja. Yang menarik adalah ketika insting engineering-mu semakin baik dari hari ke hari, ternyata saya menjadi sering mencoba mendesain dan menebak ukuran pondasi atau struktur baja sebelum melakukan perhitungan yang sesungguhnya. Kalkulasi pun menjadi bagian kecil dari semua proses hingga struktur terpasang. Masih ada tahapan pembuatan gambar, proses pengajuan desain ke owner, proses pengecekan material hingga pembelian, proses perubahan desain akibat kondisi lapangan, tahapan pengecekan ketersediaan alat dan man power, proses fabrikasi dan pengecoran, merencanakan jadwal konstruksi, mengurus berbagai dokumen pra-konstruksi, hingga penggambaran as built. Bahkan kadangkala sepertinya lebih sulit mendapatkan kata sepakat dengan owner untuk struktur setinggi 1 meter dibandingkan menghitung struktur gedung 10 lantai.

Apakah saya patah semangat? Ada orang-orang yang menghakimi begitu saja, menyalahkan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Saya tentu banyak kecewa dengan orang-orang seperti itu. Namun mengingat perjalanan saya masih jauh di depan, saya tentu bertekat untuk memperbaiki banyak hal agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama, bahkan meskipun itu bukan kesalahanmu. Intinya adalah berbenah diri agar hari esok lebih baik dari hari kemarin.

Kehidupan konstruksi memang sangat berat. Banyak orang saling menyalahkan, entah itu untuk membela diri, atau demi kepentingan disiplin orang tersebut yang berbeda dengan kita, atau bisa saja karena orangnya memang suka menyalahkan. Saya merasa bahwa orang konstruksi yang biasanya stres cenderung bersikap egois. Kondisi ini tentu dipicu oleh kepentingan proyek: mempercepat proses konstruksi dan menghemat biaya.

Secara umum, saya cenderung menjadi pemalas ketika bekerja. Saya belum terbiasa pada pekerjaan multitasking dan cenderung bosan untuk kegiatan yang monoton. Secara umum, orang bergolongan darah B seperti saya memang cenderung cepat suka pada hal-hal baru, namun cepat juga bosan pada hal-hal tadi. Saya sangat sulit untuk fokus pada satu hal, tapi bukan berarti saya menyerah pada keadaan. Justru saya terus berlatih agar tidak mudah terusik pada hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi.

Proyek selanjutnya sudah di depan mata. Saya melangkah dari pengalaman dan pembelajaran di proyek pertama. Semoga berhasil dan terus menambah ilmu di proyek selanjutnya ūüôā

Omong-omong, beberapa minggu ini saya sedang menyiapkan paper ilmiah pertamaku. Saya sudah menghubungi dosen saya di ITB dan beliau menyanggupi untuk ikut ambil bagian dalam paper ini. Judulnya memang biasa, namun saya yakin akan tetap menambah wawasan ketekniksipilan kita.

 

7!! (Seven Oops)

Beberapa hari ini saya lagi suka nonton di Youtube, entah itu video atau musik terbaru. Kebetulan waktu lagi nyari-nyari lagu Jepang yang bagus, ga sengaja ketemu sama band yang menurut saya oke, 7!! (Seven Oops).

Band ini cuma beranggotakan 4 orang, dua cewek dan dua cowok. Entah kenapa pas pertama kali dengar lagu yang berjudul Orange, suara vokalisnya (Nanae) unik dan cocok sama lagunya. Suaranya memang mirip tipikal penyanyi Jepang lainnya, tapi sangat cocok untuk musik yang dibawakannya.

Genre musik yang dibawakan adalah J-Rock dan J-Pop. Setelah dengar lagu-lagu lainnya, ternyata musiknya cocok dengan musik yang saya sukai: klasik, suara instrumentalnya ga heboh tapi masih jelas, ritme cepat, dan emosional. Mungkin karena dulu ibu saya suka dengar lagu klasik semacam Beethoven atau Mozart, atau lagu-lagu gereja yang kebanyakan aliran musik Eropa, saya jadi terbawa-bawa suka musik yang seperti itu.

Kalo kamu penasaran, coba dengar lagu-lagunya di Youtube. Sebagai preview, saya tampilkan video yang berjudul Yowamushi San.

Mandi Air Hangat

Kalo ditanya aktivitas apa yang bisa membuat saya sangat-sangat-sangat senang, jawabannya: mandi air hangat!

Saya baru menyadari bahwa saya menyukai aktivitas mandi air hangat ini. Terlebih karena saya tidak terlalu suka suhu dingin: tidak doyan dengan makanan/minuman es dan tidak menikmati dinginnya ruangan ber-AC.

Setiap kali saya mandi air hangat, saya merasa sangat senang dan merasa lebih rileks. Tidak ada beban pikiran dan hanya memikirkan bagaimana caranya agar airnya tidak segera habis, namun tetap bisa mandi ūüôā . Rasanya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Kalo nanti saya punya rumah, harus punya pemanas air, bila perlu ada¬†kolam mini untuk mandi air panas. Mirip dengan onsen¬†atau pemandian air panas di Jepang.

Dari dulu, saya memang tidak begitu cocok dengan cuaca dan suhu dingin. Makanya ketika saya mengajukan ide ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, orang tua saya sebenarnya agak khawatir dengan kesehatan saya nantinya. Setiap pergantian musim di kota Bandung, semasa kuliah, seringkali membuat saya jatuh sakit, apalagi nanti jika berada di negara 4 musim.

Bagaimana dengan kamu? Suka air dingin atau air hangat?

Berpindah ke Python untuk Software Numerik

Ketika saya baru pertama kali belajar tentang dunia programming, saya lebih suka membuat aplikasi dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP (PHP Hypertext Preprocessor) dengan basis web. Dulu beberapa teman yang minta dibuatkan aplikasi web, baik itu blog, aplikasi database, atau aplikasi perhitungan sederhana, biasanya saya membuatkannya dalam bentuk web dengan menggunakan PHP karena memang fungsinya diperuntukkan untuk aplikasi web.

Akhir-akhir ini, saya sering ingin membuatkan sebuah aplikasi perhitungan yang tidak membutuhkan database. Aplikasi ini khusus untuk ranah teknik sipil (engineering) dan tidak memerlukan koneksi database seperti MySQL atau PostgreSQL. Saya sempat berpindah ke pemrograman desktop selama masih di Laboratorium Rekayasa Struktur. Saat itu saya menggunakan bahasa C# untuk membuat aplikasi  Analisis Kurvatur Momen.

Di awal tahun ini, setelah keluar dari lab, saya membuat sebuah software analisis struktur, openSAP32, yang saya buat dengan menggunakan Python. Karena kesibukan pekerjaan di luar Jakarta dan saat ini saya sedang bertugas ke site di Lhokseumawe, software ini sedikit terlantar. Sedikit informasi mengenai software ini, saya berencana membuat software analisis struktur sederhana yang bisa saya pakai tanpa harus menggunakan software komersial. Tujuannya adalah mempelajari lebih dalam tentang analisis struktur metode matriks dan berharap bisa meningkatkan nalar berpikir, syukur kalau ternyata nanti bisa dikembangkan hingga analisis gempa dan dinamik. Untuk saat ini, software ini baru bisa digunakan untuk analisis rangka batang 2 dimensi, dengan fitur yang masih minim. Kalau ada waktu luang, saya terus berusaha mengembangkan sofware ini.

Ketika banyak tenaga dan pikiran yang harus dibutuhkan untuk membuat openSAP32, saya terpikir untuk membuat software yang lebih sederhana, yang bisa saya selesaikan dalam waktu singkat. Nantinya aplikasi ini saya kumpulkan menjadi sebuah tools yang berguna buat saya sendiri dan juga engineer sipil lainnya tentunya. Untuk kasus ini, saya berpikir bahwa aplikasi desktop bukanlah pilihan yang tepat. Saya melihat aplikasi desktop lebih ditujukan pada sebuah aplikasi yang besar yang fungsinya untuk sebuah tugas khusus, sama seperti openSAP32.

Kumpulan aplikasi ini lebih cocok dibuat di atas platform web yang menangani aplikasi yang lebih kecil. Model MVC (Mode-View-Controller) pun cocok digunakan untuk aplikasi numerik. Yang berbeda adalah, jika umumnya pada aplikasi database, model digunakan sebagai media query data ke database, pada aplikasi numerik, namun model digunakan sebagai tempat mengolah data berupa perhitungan numerik yang diharapkan akan ditampilkan hasilnya.

Sudah hampir sebulan ini saya mencoba mempelajari pemrograman web dengan menggunakan python. Saya lebih memilih menggunakan python karena selain bisa digunakan untuk web, banyak library python yang khusus dibuat untuk proses numerik. Contoh library tersebut adalah Numpy, Scipy, Matplotlib, dan Simpy. Semuanya saya rasa sudah cukup matang sebagai sebuah library.

Ada banyak pilihan framework pada python. Di antara Flask, CherryPy, Bottle, Tornado, Django, dan web2py, saya menjatuhkan pilihan pada CherryPy. Flask bagus, hanya saja dukungan untuk Python 3 masih tanda tanya. Tornado khusus digunakan untuk web server untuk proses asynchronous, sedangkan saya tidak membutuhkannya. Bottle hanya menyediakan web server HTTP yang tidak production-ready. Django terlalu besar untuk aplikasi yang saya buat dan web2py sepertinya terlalu kompleks. CherryPy saya pilih karena tidak dilengkapi oleh 3rd-party yang memang tidak saya butuhkan seperti akses database dan autentikasi. Aplikasi yang ingin saya buat murni interaksi dinamik antara user dan kode yang bermain di level numerik. CherryPy juga sudah dilengkapi built-in http server sehingga tidak membutuhkan banyak dependencies.

Awalnya saya cukup kesulitan mempelajari framework ini. Ditambah lagi saya harus mempelajari Mako sebagai library untuk template aplikasi ini nantinya. Untuk membuat framework ini bekerja sebagai arsitektur MVC, saya harus membuat beberapa script agar bisa berjalan sesuai dengan keinginan.  Semuanya berada dalam kontrol kita, tidak seperti banyak framework PHP yang semuanya tinggal pakai karena memang dari awal sudah menggunakan konsep MVC. Bahkan model routing dan dispatching pun bebas mau yang seperti apa.

Akhirnya saya bisa sedikit puas karena berhasil membuat dasar dari model aplikasi yang saya inginkan. Begitulah saya yang pada awalnya berharap bisa menguasai¬†framework ini dengan cepat, ternyata harus bersabar lebih lama untuk mendapatkan apa yang saya harapkan. Tampaknya beralih ke Python adalah langkah yang menurut saya akan sangat berguna ke depannya ūüôā

Kalau kamu ingin melihat kerangka MVC aplikasi saya, kamu bisa melihat-lihat ke halaman github aplikasi yang saya beri nama civil-engineering-toolbox.