Tag Archives: Ceritaku

Font Apa yang Kamu Pakai?

Ketika kita mengetik suatu dokumen, kita mungkin pernah berada dalam posisi menentukan jenis font yang cocok dipakai untuk dokomen kita. Ketika dulu sewaktu SMP kita masih sering mengidolakan  font Comic Sans, mungkin tidak lagi ketika dokumen yang kita buat sudah bersifat formal atau dipakai dan dibaca oleh orang lain. Saya pun banyak belajar banyak tentang penggunaan font dan kapan menggunakan jenis font tertentu pada jenis dokumen yang tepat.

Menjadi web programmer beberapa tahun belakangan ini memang membuat saya belajar banyak bahwa ilmu tentang font memang cukup luas. Hubungan font dengan web programmer apa? Tentu saja web programmer yang bertugas membuat halaman web harus bisa membuat tampilan web yang menarik untuk dibaca, tentu saja font juga harus diperhatikan. Ilmu tentang font memang sudah lama ada, Typography, namun tidak ada salahnya untuk belajar ilmu yang satu ini. Mohon koreksinya jika ada kesalahan.

Dilihat dari bentuknya, font bisa dikategorikan menjadi 2:

  1. Sans-serif, adalah tulisan yang tidak memiliki garis kecil di tiap ujungnya. Sans artinya adalah tanpa, sedangkan serif adalah garis kecil pada ujung font. Contoh font ini adalah Arial, Arial Black, Ubuntu, Segoe UI, dan Tahoma. Masih ada banyak contoh lainnya.

    Serif_and_sans-serif_01
    Source: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Serif_and_sans-serif_01.svg
  2. Serif, adalah tulisan yang memiliki garis kecil di tiap ujungnya. Contoh font ini adalah Times New Roman, Georgia, Utopia dan lain sebagainya.

    Serif_and_sans-serif_02
    http://en.wikipedia.org/wiki/File:Serif_and_sans-serif_02.svg

Lalu bagaimana menentukan font yang tepat? Pertama periksa dulu apakah dokumen yang dibuat lebih dominan dibaca di layar komputer atau akan dicetak ke dalam kertas. Jika lebih dominan dibaca di layar komputer, pilihlah font bertipe Sans-serif. Font jenis ini lebih akan mudah dibaca di layar komputer. Contoh font favorit saya adalah Segoe UI (biasa saya pakai mengirim email dengan Outlook), Tahoma (biasa untuk website), atau Lato (font website ini pada saat tulisan ini dibuat). Font jenis sans-serif lebih cocok ditampilkan dalam ukuran kecil (10-11 pt).

Segoe-UI Light, Source:http://www.microsoft.com/typography/fonts/images/small/Segoe-UI-Light.png
Segoe-UI Light, Source:http://www.microsoft.com/typography/fonts/images/small/Segoe-UI-Light.png

Untuk dokumen yang dicetak ke dalam kertas, lebih baik menggunakan font serif karena menghasilkan cetakan yang lebih bagus bila dilihat oleh mata, walaupun tidak menutup kemungkinan beberapa font sans-serif akan tampak bagus bila dicetak di atas kertas.

Buat kamu yang sering membuat dokumen yang banyak memuat rumus (formula) matematika, mungkin kamu tertarik menggunakan paket software LaTeX. Software ini memang dikhususkan untuk mengelola dokumen dengan cara yang berbeda dengan software office seperti Microsoft Office atau LibreOffice. Salah satu kelebihannya adalah tersedianya font yang memang dirancang untuk keperluan rumus matematika.

Font Computer Modern
Font Computer Modern pada paket LaTeX

Saya tertarik dengan font Utopia yang saya temukan bersama paket LyX. Lyx adalah antar muka LaTeX sehingga kita hanya fokus pada isi dokumen, tidak perlu mengetahui banyak tentang perintah (command) pada LaTeX. Sebagai perbandingan, coba kamu lihat jenis font lain pada paket TeX.

Font Utopia pada paket LyX
Font Utopia pada paket LyX

Font Utopia didesain untuk menghandle formula matematika namun nyaman dibaca untuk text biasa (non-formula). Saya bahkan mencetak sebuah cerita dengan menggunakan font ini dan saya sangat menyukainya.

Jika kamu bosan dengan Times New Roman, mungkin kamu layak mencoba font Linux Libertine (Wikipedia) yang menurut saya cukup bagus untuk dicoba. Font ini memang ditujukan sebagai font yang sifatnya free sebagai alternatif Times New Roman. Di halaman websitenya, ada contoh halaman pdf untuk membandingkan kedua jenis font.

Linux Libertine vs Times New Roman
Linux Libertine vs Times New Roman

Ada ribuan font yang mungkin bisa digunakan yang tersebar di internet, namun saya rasa hanya sedikit yang layak digunakan untuk dokumen. Kalo saya sih memang pemilih dalam urusan font. Jika memang tidak ada aturan baku dari kantor atau dari kampus tentang penggunaan font, saya lebih cenderung memakai font yang menurut saya lebih baik dari yang lain. Font di atas adalah beberapa pilihan font favorit saya 🙂

Sibolga Bukan Medan

Percakapan yang sering saya alami adalah kebanyakan orang menganggap bahwa kota Sibolga itu sama dengan kota Medan.

Teman: “Kamu asalnya dari mana?”
Saya: “Dari Sibolga.”
Teman: “Itu Medan bukan?”
Saya: “…”

Saya tidak tau apakah semua orang mengeneralisir bahwa hanya ada 1 kota di Sumatera Utara, yaitu Medan dan semua orang Batak tinggal di Medan. Sekarang coba saya buat percakapan yang identik dengan percakapan saya di atas sebagai perbandingan.

A: “Kamu asalnya dari mana?”
B: “Dari Cirebon.”
A: “Itu Bandung bukan?”

A: “Kamu asalnya dari mana?”
B: “Dari Tegal.”
A: “Itu Semarang bukan?”

A: “Kamu asalnya dari mana?”
B: “Dari Banyuwangi.”
A: “Itu Surabaya bukan?”

Kalo kamu tinggal di Jawa, pasti tau kalo pertanyaan balik si A ga nyambung dengan jawaban si B. Kamu akan kesal kalau kampung halamanmu seenaknya diganti oleh orang lain 😀

Ada jarak sekitar 10 jam menggunakan travel dari kota Medan dan Sibolga, sehingga Medan tidak bisa disamakan dengan Sibolga. Kalau Medan ada di sebelah Timur (Utara) pantai Sumatera, maka Sibolga ada di pantai Barat Sumatera. Demikian juga saya ketika pertama kali mendengar nama kota, saya tidak langsung mengasumsikan bahwa kota tersebut dekat dengan ibukota. Lebih aman berasumsi dan menanyakan balik provinsi kota tersebut alih-alih menayakan ibukotanya.

Teman: “Kamu asalnya dari mana?”
Saya: “Dari Sibolga.”
Teman: “Itu Sumatera Utara bukan?”
Saya: “Iya, di pantai barat Sumatera Utara.”

Teman: “Kamu asalnya dari mana?”
Saya: “Dari Sibolga.”
Teman: “Dari Medan jauh ga?”
Saya: “Masih jauh.”

Yak, demikianlah sebuah percakapan agar kamu tidak dianggap lawan bicaramu tidak mengenal peta dan letak geografis Indonesia 🙂

Hantu Kamar Mandi Sekolah

Pada suatu hari ketika dulu masih masa Sekolah Dasar, banyak terdengar rumor bahwa kamar mandi di sekolah ada hantunya. Ada yang percaya, banyak juga yang tidak percaya, bahkan yang cuek juga ada. Kebetulan sekolahku dulu masih dalam tahap pembangunan gedung baru, jadi keadaan sekolah masih banyak yang bersifat sementara (temporary), termasuk kamar mandi.

Suasana gedung sekolah juga bisa dibilang remang-remang, tidak banyak cahaya yang masuk, penerangan dari lampu juga terbatas. Apalagi kamar mandi hanya diterangi lampu secukupnya. Kondisi kamar mandi tidak banyak berbeda dari kamar mandi pada umumnya, ada bilik kamar mandi jongkok dan tiap bilik dibatasi oleh pintu dan 3 sisi dinding. Ada sekitar 4 bilik yang berjejer sederet. Di depan bilik tadi terdapat sebuah selokan khusus untuk buang air kecil untuk anak laki-laki.

Hingga pada suatu hari berikutnya, ketika saya berada di ruangan kelas, ada berita yang mengabarkan bahwa hantu kamar mandi benar-benar ada. Buktinya, sebuah pintu bilik kamar mandi tertutup dan tidak bisa dibuka! Beberapa usaha sudah dilakukan untuk membuka pintu, lalu mengetuk-ngetuk pintu siapa tau ada orang yang tertidur atau pingsan di dalamnya. Namun tidak ada balasan.

Saya menjadi penasaran dan segera menuju kamar mandi. Suasana menjadi begitu ramai karena adanya berita ini. Namun, seingat saya tidak ada guru yang berada di sana. Ruangan guru cukup jauh dari jangkauan pandangan ke arah kamar mandi. Saya pun yang ketika itu duduk di kelas 6 segera masuk dan melihat pintu yang tertutup.

Saya mencoba membuka pintu namun tidak bisa dibuka. Saya melihat berbagai kemungkinan untuk bisa segera membuka kamar mandi dan membubarkan kerumunan.

Kamar mandi ini ditutupi oleh 4 sisi, namun ke-empat sisi ini tidak menutup hingga lantai di atas. Bilik kamar mandi hanya setinggi 2 meter! Ahaa, mungkin saya bisa masuk ke bilik sebelah dan naik dari atas lalu masuk ke dalam bilik yang tertutup. Saya pun lalu mencoba naik melalui bilik disebelahnya. Agak susah untuk bisa memanjat hingga ke atas karena tubuh saya sewaktu SD tidak cukup tinggi untuk memanjat dinding setinggi orang dewasa.

Sayapun berhasil naik lalu turun ke kamar mandi yang tertutup. Tidak ada siapa-siapa di sana. Pintu kamar mandipun tertutup dari dalam. Saya memeriksa keadaan bilik sebentar lalu kemudian membuka pintu. Saya pun berteriak, “Tidak ada siapa-siapa di dalam. Ayo semuanya bubar!”

Saya pun kemudian bergerak menuju kelas. Saya lalu membuka kemungkinan bahwa bisa saja ada orang lain yang sengaja menutup pintu bilik kamar mandi lalu memanjat naik ke bilik di sebelahnya. Tapi siapa yang tau?

Artikel Pertama di Media Cetak dan Online

Sebenarnya saya malu menulis artikel ini. Ini adalah cerita tentang pengalamanku menulis di media cetak sekitar 6 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 3 SMA. Kalau diingat-ingat kembali dan dilihat kembali apa yang pernah saya tulis, rasanya artikel tersebut banyak kekurangannya.

Semenjak saya memiliki komputer ketika kelas 2 SMA, saya menjadi cukup sering membeli tabloid komputer atau sekedar membaca majalah komputer milik teman saya. Waktu itu pernah komputer saya terserang virus (saya bahkan tidak tau komputer saya sedang bervirus). Ngomong-ngomong, yang saya bicarakan di dalam keseluruhan artikel ini adalah worm yang cepat menyebar dan sifatnya cuma mengganggu (bukan virus yang menginfeksi file). Untuk kemudahan imajinasi pembaca yang sudah terlanjur familiar dengan kata tersebut, saya akan menyebut virus, alih-alih sebutan worm. Setelah install ulang, saya menjadi penasaran dengan objek yang bernama virus. Saking seringnya saya bermain komputer, bahkan ibu saya sempat berkomentar, “Jangan keseringan main komputer, awas nanti virus komputernya kena ke manusia”. Untung saya tau kalau virus komputer tidak sama dengan virus yang kita kenal di pelajaran biologi.

Keisengan saya dan obsesi saya dengan virus komputer membuat saya seolah-olah beternak virus: mengumpulkan berbagai macam virus. Biasanya virus tersebut saya peroleh dari flashdisk teman saya atau saya peroleh dari warnet yang menjadi sarang virus. Virus itu kemudian sengaja diaktifkan dan kemudian saya berusaha membersihkan virus tersebut. Pengalaman yang aneh ini membuat saya terbiasa dengan lingkungan komputer penuh virus dan cukup tau sifat-sifat virus pada umumnya.

Sering kali, ketika hendak membersihkan komputer yang sudah terkena virus  atau sekedar mengecek apakah komputer itu sudah terkena virus atau tidak, ada saja kendalanya. Entah itu antivirusnya yang belum terinstall, entah itu antivirusnya yang tidak up-to-date, atau sering juga malah antivirusnya yang sudah lumpuh gara-gara virus.  Terbersitlah ide bagaimana mendeteksi suatu komputer apakah sudah terkena virus atau tidak, namun jika biasanya menggunakan antivirus yang sudah terinstall di PC, kali ini saya memikirkan bagaimana kalau antivirusnya ada di USB flashdisk. Ketika flashdisk dicolokkan ke dalam komputer, maka antivirus akan segera dijalankan untuk mengecek apakah ada virus atau tidak di komputer tersebut. Idenya sih sederhana, tapi sepertinya belum ada orang yang mencoba saat itu.

Konsep ini bahkan saya dapatkan dari kebiasaan virus itu sendiri dengan mengeksplotasi autorun pada Windows XP. Jika flashdisk umumnya dijadikan sebagai media untuk mengaktifkan virus, maka kali ini flashdisk dijadikan media untuk mengaktifkan antivirus. Too simple right?

Akhirnya saya mulai menulis artikel tersebut dengan judul asli “Pendeteksian Virus pada Computer dari Removable Disk“. Ada total 5 artikel yang saya tulis waktu itu dan saya kirimkan dalam 2 buah email ke majalan PCPlus. Waktu itu saya belum pernah mengirimkan artikel apapun ke media cetak dan ini menjadi artikel pertama yang pernah saya kirimkan. Waw, beberapa minggu kemudian (atau beberapa bulan kemudian), saya dikabari melalui email bahwa artikel saya akan diterbitkan sebulan kemudian, Yei.

Saya kemudian diminta mengirimkan nomor rekening dan akan mendapatkan uang sebesar Rp 300.000,00. Jumlah tersebut menurut saya sangat besar untuk ukuran anak SMA waktu itu. Saya juga tidak lupa membeli tabloidnya pada hari di mana artikel saya diterbitkan. Saya cukup senang waktu itu. Ada nama dan alamat emailku serta artikel yang bisa dibaca oleh orang banyak. Judulnya berubah menjadi “Deteksi Virus PC dari FlashDisk

Pada beberapa minggu selanjutnya, banyak email yang masuk untuk menanyakan ini itu atau cuma sekedar kenalan. Tak lupa juga ada email spam pertama yang sampai di inbox-ku yang bercerita tentang seorang asing di luar Indonesia yang hendak mewariskan uangnya pada orang yang menerima email tersebut.

Beberapa artikel juga saya kirimkan ke tabloid yang sama, namun sepertinya tidak menarik. Semenjak itu, saya mulai menulis artikel online di internet. Media pertama yang saya sambangi adalah ilmukomputer.com. Namun 3 tahun yang lalu, saya menghapus semua artikelnya karena saya malu melihat isinya. Lagi-lagi alasan malu ini saya pakai untuk menutupi kekurangan saya. Namun apa mau dikata, saya sendiri adalah orang yang cukup pemalu, baik itu di hadapan cewek ataupun di hadapan orang yang tidak saya kenal.

Namun saat ini, saya lebih suka menulis di media internet seperti blog. Rasanya banyak orang akan bisa melihat dan menilai bagus tidaknya serta bermanfaat tidaknya artikel tersebut buat mereka. Media internet akan lebih mudah diupdate jika memang memiliki kekurangan.

Begitulah sedikit cerita tentang pengalaman pertamaku menulis di media cetak. Untuk kesempatan berikutnya, mungkin saya akan menulis di media cetak dalam bentuk lain, mungkin dalam bentuk buku. Amin 😀

Kini tulisan-tulisan tersebut sudah tidak layak layak diimplementasikan (meskipun bisa) karena menurut saya banyak kekurangannya dan sudah tidak mengikuti perkembangan zaman. Sekarang ini, saya sudah tidak terlalu memikirkan virus karena sudah berganti ke sistem operasi Linux yang jarang sekali (bahkan belum pernah nemu) ada virus yang mengganggu aktifitas berkomputer. Kalau kamu penasaran dengan isi artikel tersebut, ini saya upload kembali artikel yang sempat saya banggakan tersebut (cie :p).

  1. Pendeteksian Virus pada Computer dari Removable Disk – Artikel asli yang dikirim ke Tabloid PCPlus
  2. Pendeteksian Virus pada Computer dari Removable Disk – Artikel yang sudah diedit dan diterbikan di Tabloid PCPlus
  3. duken_mengganti password administrator pada windows – Ilmukomputer.com
  4. Duken – Mengganti Password Akun Windows lewat CMD – Ilmukomputer.com

Tanya Jawab Pengalaman tentang Sistem Operasi

Tanya jawab di bawah ini adalah tanya jawab yang saya buat sendiri pertanyaannya dan saya jawab sendiri. Ini adalah opini saya sebagai orang teknik yang bukan mahasiswa IT. Pengalaman ini saya dapatkan dari banyak obrolan dengan orang-orang dengan berbagai sistem operasi.

  • Sistem operasi yang dipakai saat ini? Linux Mint 14 (Nadia)
  • Sistem operasi yang intensif pernah dipakai? Windows XP, Windows Vista, Windows 7, Linux Mint, Ubuntu, FreeBSD, CentOS
  • Sudah berapa lama menggunakan OS tersebut? FreeBSD 4 tahun, Windows 5-6 tahun, Linux 3 tahun
  • Sistem operasi yang paling stabil untuk server? FreeBSD
  • Apakah kamu suka mencoba berbagai distro Linux? Tidak. Namun saya selalu tertarik untuk melakukan itu, mungkin lain waktu.
  • Beberapa kelebihan FreeBSD dibandingkan Linux? FreeBSD lebih teratur dalam hal meletakkan file konfigurasi dan saya belum pernah menemui kasus dependency cycle ketika menginstall sebuah software.
  • Kenapa memilih Linux Mint? Untuk pemakaian sehari-hari, saya lebih memilih sistem operasi yang tidak ribet sana-sini (mudah dalam pemakaiannya). Saya lebih memilih target produktivitas tinggi ketika menggunakan sistem operasi tersebut.
  • Pilih CLI atau GUI? Saya suka keduanya, tapi saya memilih menggunakan aplikasi yang mudah dan cepat digunakan. Kalo lebih mudah dengan GUI, maka saya akan menggunakan GUI, demikian sebaliknya. Misalnya untuk pengaturan IP statik atau mengganti proxy global, saya lebih memilih menggunakan GUI daripada CLI karena saya anggap lebih cepat dan lebih simpel. Namun untuk OS server, tentu saja harus menggunakan CLI karena hanya bisa diremote lewat SSH 🙂
  • Lebih stabil Linux atau Windows? Windows. Entah kenapa saya cukup sering mengalami masalah dengan Linux, namun tidak dengan Windows dan FreeBSD, haha. Mungkin pengalaman kamu berbeda dengan saya.
  • Apakah Windows tersebut bajakan? Dulu iya, tapi di kampus saya ada program kerja sama dengan Microsoft yang memungkinkan mahasiswa menggunakan Windows legal yang harus diperpanjang setiap setahun sekali.
  • Kalo begitu lebih pro proprietary software? Tidak juga, Bagi saya yang murni bukan berasal dari IT, tidak ada bedanya apakah software itu proprietary atau open source. Toh dalam pemakainnya, sebagai pengguna biasa kami hanya bisa menggunakan saja tanpa bisa mengerti apa yang harus diganti dalam source program jika memang bisa diganti. Tidak semua orang memiliki kemampuan memodifikasi source program dan tidak semua orang yang memiliki kemampuan tersebut, mau dan mampu memodifikasi program tersebut, terutama software untuk teknik. Namun tentu saja saya yang mengerti IT dan sebagai engineer teknik sipil juga sebagai seorang developer software membutuhkan software yang open source dengan berbagai kelebihannya.
  • Menurut kamu kenapa banyak orang lebih memilih menggunakan Windows atau produk proprietary lainnya? Sering kali di berbagai forum banyak orang yang berkecimpung di dunia open source menjelek-jelekkan orang-orang yang menjadi pengguna Windows ataupun program tertutup lainnya yang biasanya berbayar. Padahal bisa saja mereka lebih memilih program berbayar karena memang produknya lebih bagus dibandingkan yang gratisan. Jika keuntungan yang didapatkan menggunakan program berbayar ternyata jauh lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan gratisan, tentu orang lebih memilih software yang berbayar meskipun harus mengeluarkan duit berlebih di awal. Keuntungan yang dimaksud di sini ada produktivitas, familiaritas, dan tentu saja keuntungan berupa uang. Jika kita mengajak orang lain memakai Linux hanya agar membuat orang tersebut “lebih pintar” dengan  dibandingkan orang yang tidak memakai Linux, mungkin alasan seperti ini tidak akan diterima di berbagai dunia industri non-IT. Di duni industri non-IT, banyak orang menggunakan sistem operasi akan lebih sering berpikir “Apa yang harus saya lakukan agar pekerjaan saya selesai?” dan bukan “Apa yang bisa saya pelajari tentang sistem operasi ini?”.
  • Apakah semua nantinya bisa pindah ke Linux? Saat ini belum, karena masih banyak program yang sangat bagus yang cuma ada di Windows. Saya sering melihat software alternatif Windows yang bisa dipakai baik itu bersifat open source ataupun bersifat gratisan. Namun software-software itu hanyalah software umum yang memang sering dipakai oleh kebanyakan orang. Untuk software -software komputasi numerik (teknik), umumnya developer lebih memilih mengembangkan di Windows daripada di Linux. Contoh program teknik sipil yang belum ada alternatifnya adalah SAP2000, Etabs, dan semua produk CSI, serta ada Midas Civil, Midas Gen, dan semua produk Midas. Banyak juga software di teknik sipil yang bagus (mungkin jurusan lain juga), adanya di Windows saja. Perusahaan tersebut lebih memilih mengembangkan di Windows karena pasarnya memang menjanjikan. Ada beberapa program open source seperti OpenSees yang memang fungsinya mirip dengan software-software di atas, namun sayangnya program tersebut tidak bisa dipakai untuk kepentingan komersial (bukan lisensi GPL) dan tidak semudah program proprietary. Ada sedikit cerita dari kampus saya, jangankan hendak pindah ke Linux, bahkan ada juga pegawai yang sudah nyaman menggunakan Windows 95, tidak mau pindah ke Windows yang terbaru karena tidak mau direpotkan untuk belajar lagi. Parahnya lagi, pegawai tersebut mengeluh karena komputernya tidak bisa dihidupkan, padahal setelah diperiksa kabel listriknya belum disambungkan. Terlepas dari apapun sistem operasinya, seringkali kendala pengetahuan pengguna tentang hal-hal kecil seperti itu memang tidak bisa dihindarkan. Mau apa lagi, yang terpenting adalah bagaimana pengguna bisa merasa nyaman menyelesaikan pekerjaannya.
  • Mengapa software-software tersebut dijual dengan kode tertutup? Software-software teknik dengan fitur lengkap umumnya memang dijual dengan kode tertutup. Untuk membuat software seperti itu, tidak cukup dengan kemampuan memrogram. Perlu pengetahuan tentang software yang akan dibuat, misalnya kemampuan tentang teknik sipil, atau kemampuan numerik lainnya. Bahkan membuat program dengan fitur yang bagus, tidak cukup dengan kuliah dan literatur dari S1, butuh pengetahuan dan literatur S2 bahkan S3 untuk bisa memasukkan banyak teori ke dalam sebuah program. Intinya sih, jika harus menghabiskan banyak waktu dan uang memperoleh ilmu (teknik sipil misalnya) di bangku kuliah, dikombinasikan kemampuan pemrograman yang bagus, kenapa harus memilih memberikan software yang bagus tersebut dengan gratis? Itulah sebabnya software-software teknik harganya bisa ratusan juta dan memiliki kode tertutup. Sebuah pertanyaan iseng, jika seandainya Microsoft menjual Windows lengkap dengan sourcenya (open source dengan model RedHat), apakah kamu mau membelinya?
  • Apakah kamu penggiat open source? Ya, saya sering kok membuat program untuk client dengan kode terbuka agar bisa diubah di kemudian hari. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu peduli dengan konsep open source atau pun kode tertutup (mungkin karena bukan bidangnya).
  • Apakah kamu membenci Microsoft? Tidak.
  • Apakah kamu membenci Bill Gates? Tidak. Malah Bill Gates adalah tokoh favorit saya. Terlepas dari dia mengeluarkan produk dengan kode tertutup, Bill Gates adalah orang yang sangat dermawan. Yang sering saya lihat dari para penggiat open source adalah banyak (tidak semua) dari mereka yang menganggap Bill Gates sebagai orang yang harus dibenci. Padahal kalau dilihat dari sisi lain, dia adalah orang sangat mudah  memberikan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan dana kemanusiaan. Jadi sebenarnya, dengan membeli produk Microsoft pun sebenarnya secara tidak langsung turut andil membantu orang di luar sana. Kalau melihat apa saja yang sudah dikerjakan oleh Bill & Melinda Gates Foundation, bisa melihat langsung ke websitenya. Kamu bisa juga melihat pemikirannya Bill Gates di blognya atau tentang kegiatan kemanusiaannya. Kamu akan melihat banyaknya usaha dan riset yang dilakukan oleh Bill Gates dalam membantu pemberantasan penyakit di Afrika, India, dan banyak negara miskin yang belum maju, serta riset aktif lainnya di bidang energi dan pendidikan.
  • Kekurangan Windows? Mungkin karena sedikit banyak terbiasa dengan FreeBSD, saya sangat kesulitan untuk memanfaatkan kelebihan CLI yang tidak ada pada Windows, serta harganya tidak murah untuk dibeli.
  • Apa kesimpulan dari percakapan ini? Sebenarnya, tidak perlu fanatik ke sebuah teknologi dan mentok di sana, baik itu kelompok Linux, FreeBSD, dan Windows, ataupun kelompok open source dan kelompok proprietary. Kenapa harus mengucilkan mereka untuk membeli jika memang mereka mampu membeli software tersebut? Nikmati saja semuanya jika memang kita bisa memperoleh software-software tersebut dengan legal.

Naik ke Level 2 Les Bahasa Jepang

Selasa, 26 Februari 2013 dan Senin, 4 Maret 2013, saya mengikuti ujian kenaikan level bahasa Jepang yang saya ikuti di BLCI (Bandung Language Center Indonesia). Puji Tuhan, saya akhirnya lulus dan naik ke level 2 🙂

Bagi saya, kenaikan level ini membuat saya sangat senang sekali. Namun bukan sekedar senang karena saya tidak perlu mengulang pelajaran level 1 (retake), tapi lebih karena saya bisa menambah pengetahuan bahasa saya di sela-sela kesibukan saya yang sudah bekerja. Lebih senangnya lagi mengingat 2 bulan yang lalu saya bahkan tidak bisa bahasa Jepang, tapi sekarang sudah bisa mengerti sedikit.

Niat belajar bahasa Jepang sebenarnya bukan karena saya ingin mengejar target tertentu seperti bekerja di perusahaan Jepang atau persiapan beasiswa ke Jepang atau target lainnya yang dikejar karena alasan spesifik tertentu, namun niat itu datang karena saya ingin mengetahui bahasa lain selain bahasa yang sudah saya ketahui saat ini (Indonesia dan Inggris). Meskipun saya berencana mencoba beasiswa Monbukagakusho Jepang, namun tidak ada kaitannya dengan les bahasa Jepang yang saya ikuti ini. Les ini saya ambil murni karena saya hanya ingin mengetahui bahasa Jepang. Paling tidak saya bisa mengerti apa percakapan yang sedang dibicarakan ketika sedang menonton dorama Jepang :D. O iya, selain bahasa Jepang, saya juga tertarik belajar bahasa Mandarin dan bahasa Jerman. Namun, les bahasa Jerman sangat mahal, sedangkan bahasa Mandarin sangat sulit dicari tempat belajarnya di Bandung.

Ngomong-ngomong soal bahasa Jepang, saya menganggap bahasa yang satu ini sangat unik, berbeda dengan bahasa Inggris, namun masih memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sangat fleksibel dan irit dalam pemakaian kata, mungkin lebih disebabkan karena penggunaan kata-kata baru yang lebih intensif digunakan oleh kalangan muda. Bahasa Jepang juga demikian, sangat irit dalam pemakaian kata dan cenderung tidak baku (bukan berarti tidak formal). Contohnya: Makan ga?; Mau makan ga? (Indonesia); Do you want to eat? (Inggris); Tabemasenka? (たべませんか) (Jepang). Dalam buku-buku pelajaran, bahasa Inggris cenderung baku dengan membuat kalimat yang lengkap untuk sebuah kalimat baku. Bahasa Jepang mirip dengan bahasa Indonesia, dengan kalimat yang memiliki arti yang sama (tabemasen artinya makan, sedangkan partikel ka dalam konteks ini untuk menanyakan iya atau tidak).

Sebagai pelengkap, saya akan memperkenalkan diri sesuai dengan hapalan saya untuk ujian percapakan kemarin. Kalau tulisan Jepangnya ga keliatan, berarti komputer kamu belum diinstall font Jepangnya :p.

はじめまして。
わたしのなまえはDuken Margaです。
わたしはTaman Sariすんでいます。
わたしのたんじょうびは3月16日。
わたしはエンジニアです。
わたしは月よう日まで金よう日はたらきます。
まいあさごせん9じからごご4じまでだいがくのじっけんしつへいきました。
よろしくおねがいします。

Adikku yang Cerewet

Friska Turnip
Friska Turnip

Saya mempunyai seorang adik perempuan yang sangat cerewet. Namanya Friska Turnip, biasa dipanggil Friska. Umurnya 14 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Entah mengapa, semenjak 2 tahun ini, adikku yang satu ini menjadi orang yang sangat sering mengganggu saya. Dulu dia sangat jarang menelepon saya dan sekedar say hello ketika berkomunikasi lewat telepon. Tapi sekarang ini hampir setiap hari dia menelepon saya.

Kalo dulu cuma sekedar basa-basi nanya keadaan di rumah, tapi sekarang dia lebih sering menyanyakan PR nya dari sekolah. Setiap hari ada saja PR yang hendak ditanyakannya, biasanya PR Fisika, Komputer, atau Matematika. Untung saja pelajarannya masih pelajaran SMP, jadi tidak terlalu sulit dan masih bisa saya ikuti. Kadang pernah juga dia menanyakan PR Sejarah, tapi itu jarang sekali.

Terkadang capek juga menjawab semua pertanyaan itu. Tentu saja jawaban dari pertanyaan PR tidak saya beritahu secara langsung, tapi saya bimbing dia untuk bisa mengerti konsep dasarnya. Dengan demikian, jika ada pertanyaan lain dengan topik yang sama, mudah-mudahan dia sudah bisa menguasainya. Dari pengamatan yang saya ikuti, adik saya ini tidak terlalu bisa hitung-hitungan dan yang berhubungan dengan konsep logika. Makanya setiap kali ada pelajaran yang sederhana seperti operasi bilangan dan aljabar sederhana (membalik tanda operasi bilangan), saya harus mengulang-ulang agar dia tetap ingat. Syukurlah dia tidak mudah bosan saya ajari meskipun saya yakin dia tidak mudah mengikutinya. Saya juga cukup senang mendengar dari ibu saya bahwa adik perempuan saya ini cukup rajin belajar di rumah.

Tidak seperti kebanyakan orang lain yang sangat mudah menyerah ketika mengikuti pelajaran di sekolah, adik saya ini cukup bersemangat ketika mengikuti pelajaran tersebut. Dari pengalaman saya dengan adik saya ini, saya bisa memberi kesimpulan kecil bahwa setiap anak-anak yang berada dalam tahap belajar (SD, SMP) cukup senang belajar ketika ada orang dewasa yang membimbing mereka dan bisa memberikan motivasi serta jawaban pada setiap pertanyaan yang mereka miliki. Tentu saja orang tersebut harus bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab tuntas pertanyaan tersebut.

Beruntunglah adik saya ini punya abang yang sangat peduli dengan pendidikan adik-adiknya, haha 🙂

Setiap kali mereka punya pertanyaan, pasti akan saya bantu sebisa mungkin. Bahkan seringkali setiap malam, 2 jam harus saya sediakan untuk mengajari dia. Atau sering juga saya bela-belain untuk bangun pagi untuk membantunya mengerjakan PR mereka, tentunya lewat telepon :p

Oke, itu tadi cerewet dalam hal belajar, saya akui saya memang cukup pusing dibuatnya. Tapi apa boleh buat, saya tidak mungkin membiarkan dia tidak mengerti apa-apa dengan pelajarannya.

Cerewetnya yang lain adalah ketika dia mempunyai permintaan yang macam-macam yang saya sendiri cukup sulit memenuhinya (lebih tepatnya saya agak malas). “Bang, cariin lagu blabla…”. “Bang, cariin film blabla…”. “Bang, isikan pulsa modem…”. “Bang, lagunya udah abang cari?”. “Bang, filmnya udah donlod?”. “Abang, kapan abang kirim kasetnya?”. “Bang, kaset yang abang kirim ga bisa dibaca di sini”. “Bang, ada ceritaku …”. “Abang, coba putar lagu blabla *sambil telepon didekatkan ke speaker laptop*”. “Abang, kenapa modemnya ga bisa dipake lagi?”. “Abang, Natalan pulang kan?”. “Abang, aku ulang tahun, kadonya mana?”.

Yah, lebih tepatnya permintaan seorang gadis yang sedang berkembang keingintahuannya. Saya juga jadi tempat curhatnya jika dia lagi punya masalah seperti bertengkar dengan abangnya, atau lagi marahan sama mama saya, haha :). Yang saya heran, kenapa dia ga bosan-bosan ngomong dengan saya, padahal saya selalu membuat dia kesal. Seringkali saya pura-pura ga kenal “Halo ini siapa?”, atau tiba-tiba teleponnya saya matikan karena punya pekerjaan lain, atau ada permintaannya yang belum saya penuhi. Seringkali dia marah kepada saya, tapi besoknya udah nelpon lagi :p

Ternyata cukup sulit menjadi orang tua. Bahkan apa yang saya kerjakan belum ada apa-apanya jika dibandigkan apa yang dilakukan oleh orang tua kita. Mereka mengerjakan dan memikirkan banyak hal untuk anak-anaknya. Namun saya bersyukur bisa mengambil bagian menjadi orangtua yang baik untuk adik-adik saya.